Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Januariku Ngapain Aja? BCT | Hari Kesebelas Rangkap Tiga Puluh Satu

  Ajaib memang. Bisa langsung lompat ke hari terakhir.  Nggak terasa, ya. Januari nyaris usai dalam hitungan jam. Begitulah. Waktu berlalu bukan untuk kembali. Yang kita sesali nggak akan pernah datang lagi, kecuali kita memperbaiki di masa depan, untuk kesempatan yang lain. Misalnya 3 Hari Ngeblog yang aku alfa lebih dari setengah bulan, sepertinya. Padahal bulan depan nggak ada lagi event ini, kecuali Isma baik hati dan masih sabar merekrut kami. Sedih sih, kesempatan ini sudah tinggal beberapa jam lagi. Padahal banyak sekali di dalam kepala yang ingin dibacotin. Mulai dari tetangga yang nggak pernah alfa kibotan, toleransi yang selalu nggak adil, tanggapan yang rerata dilabeli toxic positivity, kuliah yang nggak kunjung kelar, pertanyaan rangorang kapan niqa pake qiu sampai urusan hati. Ahaha enggakkk! Poin terakhir itu sedang tidak enak dibicarakan. Nggak yahud kayak dulu. Sebenarnya, peristiwa tetangga yang tiap hari kibotan ini ada kaitannya sama toleransi. Ya gim...

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.

DIALOG; HARI KESEMBILAN

  "Mulai hari ini, kita berteman."

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

KITA YANG TIDAK BERHAK MEMILIH-HARI KETUJUH

“Candra. Ini mama. Maafkan mama, ya?”   Dari luar ruang ICU yang dibatasi dinding kaca tebal, Binar memaku. Ia menyayangkan dirinya sendiri, mengapa harus mengerti arti gerakan mulut yang dibuat ibunya. Mengapa wanita itu justru menurunkan maskernya ke dagu di dalam ruangan minim akses begini? Harus ia akui, keterkejutan mengenai fakta hubungan dirinya dengan Candra belum bisa diterima akalnya. Sejak kecil, ia tidak pernah mengenal siapa ayahnya, memilih tidak menanyakan siapa pria brengsek yang tega meninggalkan dirinya dan ibunya itu. Apalagi sampai menanyakan, apakah dia memiliki saudara kandung yang terpisah dengannya sewaktu mereka masih sangat kecil? “Bin ...” Tangan besar itu menyambangi pundaknya. Dingin sebab terlalu lama berdiam diri di lorong rumah sakit. “Maaf.” *** “Maaf gue baru bisa datang.” Napas Jack terengah-engah setelah membawa kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, belum lagi tersesat karena dengan bodohnya dia tidak meilhat dena...

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

(Bukan) Puisi Terakhir-Hari Kelima

  (Bukan) Puisi Terakhir Suatu saat, Akan kubawa kau ke Yogyakarta Menikmati debur ombak pantai selatan di atas sepasang kursi malas menjelang senja Esok paginya, kuajak kau menikmati dinginnya puncak pinus Becici Sembari menikmati teh jahe yang kubawa menggunakan termos tahan panas Yogyakarta lebih dingin daripada kampung halaman kita saat pagi hari Tapi tidak apa-apa, ada aku, secangkir teh serta  senyumku yang menghangatkanmu Mey, Raha- Memilih surat sebagai penyampai puisi-puisinya bukan tanpa alasan. Ia ingin puisi-puisi tersebut tetap tersimpan untuk Mey seorang diri tanpa bisa terhapus seperti yang ada di aplikasi ponsel. Mencintai seorang Mey−perempuan desa yang senyumnya saja membuat Fakih tertawa lebar. Sepasang bola matanya selalu indah menurut Fakih, bahkan hingga terakhir kali bertemu idul fitri lalu. Masih pukul tujuh, meski matahari sudah mulai meninggi. Laki-laki itu memutar kunci yang bersarang di pintu kayu tersebut. Sama sekali belum ad...