Tau nggak, selain Covid-19(21), penyebab kematian terbesar lainnya apa? PESTA! Bukan sekadar tasyakuran, supaya orang tahu beliau sudah punya mantu tapi pesta besar dimana orang-orang bisa berkumpul dengan sebagian di antaranya memakai masker. PPKM darurat, pesta jalan terus. Kita tak ingin mematikan semua lini usaha termasuk para pengais rupiah yang dihasilkan dari wedding organizer. Katanya tujuan PPKM untuk mengurangi kerumunan, tapi bagi saya berkerumunnya orang di gerai-gerai kecil milik pegiat ekonomi menengah jauh lebih singkat dibanding hajatan, apalagi yang mengadakan ini pejabat publik pimpinan desa. Masih pimpinan desa loh ya? Sudah berapa dusun yang akan datang memberi ucapan selamat, makan prasmanan, kemudian cipika-cipiki apabila bertemu kawan lama. Matilah orang-orang. Bukan hanya karena virusnya. Tapi karena penghasilan menciut sementara hajatan berkelanjutan. Mending hajatannya cuma niat syukuran. Lah wong real...
Kalau dilihat dari jadwal dan tidak salah ingat, ini adalah hari terakhir hukuman kawalan. Hari terakhir nulis disediain tema yang detail dari Isma; panitia. Saya nggak tau nyebutinnya apa, kira-kira begitu. Sambil mengingat kembali harapan yang saya bayangkan semasa sekolah, juga terbesit tanya bagaimana jika sudah tidak ada tantangan menyebalkan ini? Akankah laman ini tetap ditulis olehku yang sejak dulu mendamba buku solo buah pikiranku sendiri? Atau hanya akan tersisa kenangan untuk masa depan; bahwa tulisanku seberantakan ini di masa lalu? Dipikir-pikir, sudah sejak SMP saya menulis. Memulai dengan menulis fanfiction berbentuk cerbung di catatan Facebook. Berhubung dulu akses internet tidak semudah sekarang, di hari biasa kutulis cerita-cerita konyol itu di buku tulis. Menghabiskan selusin buku yang sampai sekarang masih ada. (Seingatku beberapa bulan lalu sudah kuloakkan karena ingin membersihkan perpustakaan kamar juga takut kalau ibuku membaca tulisan alay anak...