Langsung ke konten utama

RUMAH-HARI KEENAM

 


Bisakah kita ...

Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing.

“Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!  Kordinator MPK apanya?”

Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan.

“Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membuat dia mabuk-mabukan tiap malam, menghabiskan uang gajinya secara rakus untuk perut sejengkalnya yang sebentar lagi meletus itu! Belum lagi hutangnya yang menumpuk di pakter tuak karena kadang gajinya sudah habis lebih dulu. Kamu mau hidup seperti itu?!”

ENGGAK!

Bolehkah dia meneriaki wanita di hadapannya ini?

Tapi bagaimanapun, Jack tidak pernah melakukannya. Semua tertahan di dalam sana, menunggu kapan akan meledak. Memang sudah seperti bom waktu.

“Iya. Besok Jack nggak ngeband lagi.”

“Buruan mandi. Ibu udah siapkan telur gulung kesukaanmu persis seperti di anime-anime yang kamu tonton.”

Kalau mengingat telur gulung, Jack ingin bilang, “Bu, masak apa saja tidak perlu memikirkan kesukaanku. Yang penting kita makan.”

“Jack? Kamu ngapain ngelamun? Waktunya jalan terus. Kamu masih harus belajar lagi.”

Belajar ... lagi.

Jack ingin kaya.

Ingin pintar.

Ingin punya kedudukan tinggi.

Tahun depan dia harus jadi Ketua Osis, bagaimanapun caranya.

Mulai semester ini dia harus dapatkan beasiswa yayasan, bagaimanapun caranya.

Serta, dia harus menghasilkan sepuluh juta dalam waktu enam bulan hasil kerjanya di bengkel. Dua juta selama sebulan hasil kerjanya di warung mi aceh milik tetangga. Harusnya dia minta bekerja setiap hari supaya bisa menghasilkan lima juta selama sebulan, bukan hanya akhir pekan saja.

Menjadi orang kaya itu membuat ruang geraknya lapang, pikir Jack.

***

Telur gulung yang didadar seadanya menggunakan panci anti lengket yang lapisannya sudah mengelupas itu membuat Jack menghentikan kunyahannya. Matanya mendadak sesak meski yang penuh dengan nasi adalah mulutnya. Rasa telur gulung itu selalu sama setiap harinya. Tidak pernah berbeda sama sekali. Apakah ibunya menghapal resep dari sana? Supaya Jack makan dengan baik setiap malam.

“Kamu benaran harus keluar band, Jack.”

Suara wanita yang tidak pernah lembut itu menginterupsinya. Jack memang belum melanjutkan kunyahannya. Tapi justru kembali melembutkan makanan dalam mulutnya itu agar segera menyahuti.

“I ... ya bu.” Sahutannya terbata. Jack bahkan belum memikirkan soal keluar band sepanjang ia melaksanakan ritual mandi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah, bagaimana cara menghabisi pria yang membuat ibunya menjadi begini. Jack amat benci hidup dengan penuh tekanan, tanpa bisa melakukan keinginannya. Dia ingin main band. Paling tidak itu adalah jalan paling ringan karena dia tidak mungkin bergabung di klub musik untuk mengasah kembali minatnya pada biola.

Sudah lama sekali dia tidak memegang benda yang lebih kecil dibanding gitar itu. Sejak semua berantakan; rumahnya.

“Tinggalkan Osis juga. Ibu dengar kamu sibuk sekali, sering keluar kelas karena ngurusin Osis.”

Mendengar pertanyaan tersebut, Jack jadi teringat komentar Binar pekan lalu, “Mereka itu lebih ngira lo babu dibanding malaikat, Jack.”

“Jack, kamu dengar nggak?”

“Hah?”

“Kamu ngelamunin apa sih Jack? Jangan manja. Tinggalkan yang nggak perlu. Fokus sama sekolah dan kerjaan. Kamu tau kan─”

“Ayahmu sudah bikin malu keluarga berkali-kali.”

Setelah memotong kalimat ibunya, Jack meletakkan sendok yang dipakai untuk makan. “Aku harus belajar, maaf bu telurnya nggak kuhabisin.”

***

Jack tetap punya media sosial, meski jarang mengunggah. Entah apa yang harus dia unggah di sana. Tidak punya bahan. Paling banter kalau Binar sedang usil menyambar ponselnya, mana pemuda manis itu akan mengunggah fotonya di akun Jack. Atau kalau Jack sedang sangat ingin mengutarakan perasaannya, dia akan membuat baris-baris kalimat yang terpisah. Tidak menyambung seperti sebuah cerita. Hanya potongan yang membuat pembacanya ambigu.

Liburan bareng Mama Papi, check!

Ayunina Pradita. Sahabat yang seminggu lalu baru pulang dari Jepang itu mengunggah foto keluarganya. Jack menekan tanda suka di layar ponselnya. Tatapannya memaku selama lima menit setelahnya.

“Enak sekali bisa mengunggah foto keluarga,” pungkasnya. Salivanya terteguk kasar. Batinnya menyesali kekacauan yang terjadi pada keluarganya. Sebelum ingin menjadi kaya raya, sebenarnya yang diinginkan Jack hanyalah satu keluarga utuh yang tidak memiliki banyak masalah, melukai nama baik keluarga, serta terhentinya sikap kasar yang terjadi pada rumahnya. Andai Jack bisa bilang itu kepada kedua orang tuanya, untuk tetap akur, untuk saling sadar serta memperbaiki.

Tapi, alih-alih mengatakan itu, kini Jack hanya ingin mewujudkan obsesi ibunya. Menjadi orang pintar, kuliah di kampus bagus, sukses, kaya raya. Sepertinya itu akan membahagiakan ibunya yang semakin hari sering marah-marah padanya. Meski Jack melakukan kesalahan dengan nilainya, ia tidak ingin sampai berhenti dari band. Selain latihan hanya seminggu sekali, ia juga bisa mengatur waktunya. Lagipula, pada merekalah Jack bisa tertawa. Hanya ketika sedang di studio yang ada di rumah Nina. Selebihnya, dia tidak kenal apa itu tertawa? Tawanya hanya bisa digunakan bersama Binar, Candra dan Nina; sahabatnya.

Halaman dua puluh enam dibuka dengan gerakan halus menggunakan ujung jemarinya yang semakin hari kian kasar. Bunyi gesekan antara jemari dan kertas mengisi hening malam. Sudah jam sembilan dan Jack baru mulai belajar.

Muda

Kaya Raya

Kalau bisa mati masuk surga.

Tulisan yang dicetak menggunakan huruf kapital itu tertempel pada papan tulis putih di dinding kamarnya; depan meja belajar. Jack memberi jeda untuk menatapnya sebentar sbeelu akhirnya fokus pada buku tebal tanpa gambar tersebut.

***

“Gue keluar band. Jangan tanya kenapa.”

Jack meletakkan pick gitarnya di atas keyboard di hadapan Candra. Ia pergi begitu saja setelah baru saja masuk ke dalam studio. Nina menatap kepergiannya bingung. Punggung lebar itu sudah menghilang dari balik pintu, menyisakan Binar dan Candra yang saling bertatapan dan mengendikkan bahu. Nina masih memaku, tidak bersuara.

“Bentar gue telpon Jack,” ujar Binar, memecah keheningan. Tapi tidak ada respon. Pemuda itu memilih menekan nomor Jack tanpa menunggu respon teman-temannya.

“Mati handphonennya,” pungkas Binar, kecewa mendengarkan suara operator yang selalu sama setiap saat.

“Jack kok nggak pernah cerita ya kalo ada masalah?” tanya Nina.

“Memangnya dia ada masalah apa?” tanya Candra polos.

“Kalo Nina tau, dia nggak nanya, Can.” Binar jadi gemas sendiri.

“Padahal gue selalu cerita ke dia kalo ada masalah.” Nina menghela napasnya. Meletakkan bassnya di atas bangku. Gadis itu mendudukkan diri pada sofa merah di dalam studio.

“Gue juga,” sahut Candra.

“Apalagu gue. Sekecil apapun yang ganjelin pikiran gue, gue cerita ke Jack. Dan dia kasih saran yang ampuh.” Binar menjatuhkan bahunya. Bokongnya ikut terduduk di sebelah Nina, sementara bibir bawahnya mencuat.

Jangan cari gue sekarang. Kalian latihan yang bagus. Cari pengganti gue sebelum festival sekolah berlangsung.

Nina langsung bangkit dari duduknya setelah menerima satu pesan dari Jack. Isinya mengecewakan, meski begitu, gadis itu membacakannya di hadapan teman-temannya.

“Bentar deh, gue telpon Bang Nicho. Mungkin Ketua Osis tau dia punya masalah apa.”

***

“Dia juga keluar dari Osis, ngundurin diri dari Korbid MPK. Astaga kenapa sih anak ini?” Nina mengacak rambutnya frustasi. Binar dan Candra juga tak tahu harus melakukan apa, kecuali menggaruk kepala masing-masing.

Fin

07/01/21

Orizuru Ori

 

 

 

Komentar

  1. Mbak kenapa alurnya selalu bagus. Kenapa ga buat novel aja gitu. Gemes sih sebenernya

    BalasHapus
  2. Ini udh diposting di wattpad. Tp bagian ini bru mbk tulis td malam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.