Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Menyerah, Kasur Sialan, Bangkit, dan Hal Baik (Hukuman Kawalan)

Kalau dilihat dari jadwal dan tidak salah ingat, ini adalah hari terakhir hukuman kawalan. Hari terakhir nulis disediain tema yang detail dari Isma; panitia. Saya nggak tau nyebutinnya apa, kira-kira begitu.  Sambil mengingat kembali harapan yang saya bayangkan semasa sekolah, juga terbesit tanya bagaimana jika sudah tidak ada tantangan menyebalkan ini? Akankah laman ini tetap ditulis olehku yang sejak dulu mendamba buku solo buah pikiranku sendiri? Atau hanya akan tersisa kenangan untuk masa depan; bahwa tulisanku seberantakan ini di masa lalu? Dipikir-pikir, sudah sejak SMP saya menulis. Memulai dengan menulis fanfiction berbentuk cerbung di catatan Facebook. Berhubung dulu akses internet tidak semudah sekarang, di hari biasa kutulis cerita-cerita konyol itu di buku tulis. Menghabiskan selusin buku yang sampai sekarang masih ada. (Seingatku beberapa bulan lalu sudah kuloakkan karena ingin membersihkan perpustakaan kamar juga takut kalau ibuku membaca tulisan alay anak...

Beli Pulsa (Hukuman Kawalan)

Biasanya aku mengisi pulsa untuk provider X karena kebutuhan mendadak saja. Kebetulan waktu itu lagi minim duit tapi paket internet juga kosong. Lengkap sudah derita anak kos satu ini. Satu-satunya jalan, kugunakan hotspot teman sekamar lantas mengirimi chat pada kakak yang biasa jual pulsa. Dua puluh lima ribu.  Aku ini bukan tipekal yang mudah mengingat. Apalagi nomor satu ini jarang kugunakan. Biasanya pakai provider yang bisa sampai pelosok negeri. Jadilah kucari nomor tersebut  tak kunjung ketemu. Seingatku pernah minta tolong untuk membelikan pulsa kepada sohibmu, Mide. Kuperiksa isi chat kami yang bejibun, telaten sekali untuk menemukan satu balon yang menampilkan nomor ponsel.  Ketemu.  Aku lantas meneruskan nomor tersebut ke kakak yang kang isi pulsa tadi. Nge-bon dulu, biasanya gitu.  Kutunggu udah macem nunggu abang itu. Gak juga nyampe. Tapi kata kakak itu, udah diisi. Aku nggak curiga sama sekali. Aku nyerah karena nggak kunjung terisi j...

Your Name (Hukuman Kawalan)

Regi dulu pendiem. Disenggol pun gak terpengaruh. Kalau mudiv (musyawarah divisi) sampai jelang magrib, dia izin pulang duluan, takut nggak ada angkot lagi lepas magrib ke kosannya. Kadang kami ledekin.  Paruh waktu perkuliahan, anggota kontrakan kami berkurang, juga memutuskan cari kontrakan lain di gang sebelah yang rumahnya lebih luas dan cozy (soalnya ada kamar di lantai dua yang bisa ngeliat ke bawah kayak di drama-drama). Kutawarkan slot kosong itu ke teman organisasiku yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua daripada aku itu.  "Gik. Kau mau ngontrak sama aku? Kami kurang anggota biar murah, dan biar kau ga bingung angkot."  Karena memang kontrakanku paling mudah akses transportasinya.  Dia setuju, membayar sejumlah uang sewa yang akan kami sodorkan pada pemilik kontrakan.  Regi memilih kamar atas. Eh aku lupa, dia yang pilih atau aku yang ngasih. Pokoknya dia sendirian di salah satu kamar lantai atas. Sebelahnya ada dua orang penghuni. Tapi ...

Sandal dan Takdir (Kutipan Kawalan)

Seseorang salah memakai sandalku sewaktu pulang  Salat Idul Fitri. Dia kira itu miliknya karena, sandal karet yang modelnya meniru brikenstock itu sama persis, kecuali bagian gesper yang sudah rusak sementara punyaku masih baru. Baru sebulan dipakai sebelum lebaran.  Masih suasana lebaran, hari ketiga. Sandal kesukaanku ini dibawa salat oleh adik laki-lakiku ke Masjid. (Sudah kujadikan kesayangan karena aku harus merelakan milikku yang sudah jadi punya orang lain.) Pulangnya, hingga esok pagi, tidak ada yang sadar kalau sandal ini tertukar lagi. Warnanya sama, tapi dengan mode yang sedikit berbeda. Aku misuh-misuh karena sudah dua kali tertukar. Dan mencoba menghibur diri dengan mengatakan, kalau yang ini lebih nyaman dipakai. Mencoba menyukainya lagi. Syawal masih berlanjut, tapi ayahku kelelahan minta dipanggilkan tukang pijat.  Datanglah tukang pijat tersebut, memijat tangan ayahku yang dominan sakit. Ia terlalu asyik memijat sambil makan rempeyek kacang bu...

Kak... (Hukuman Kawalan)

Hnggg, harus dimulai dari mana kira-kira?  Mau disclaimer karena ini cuma nyeritain ulang. Nggak ada niat untuk kembali, ceilah. Kalau ini, tetap saja nggak pakai nama asli. Aku menyebutnya Yudistira. Panggilannya Yudis. Dia kakak kelasku, jurusan pemasaran. Sudah kelas 3 waktu aku masuk SMK.  Kenapa ya?  Ya alasannya aku ngefans duluan, hehe.  Kapan tepatnya, aku lupa. Tapi aku terkesima waktu ketemu dia di bus selepas pembekalan untuk MOS esok hari. Entahlah, pulang dari situ aku keinget mukanya. Tapi nggak tau namanya, padahal dia pake kemeja sekolah yang ada tanda pengenalnya. Dia anak OSIS sekaligus panitia MOS.  Tapi potek di hari ketiga MOS gegara beliau gandeng perempuan ke kelas kami yang notabennya adalah pacarnya.  Elah berasa baca wattpad.  Aku nggak tau alasan mereka putus dan nggak nanya. Walau kami cukup dekat setelah sekolah dimulai, mana mungkin kutanya hal semacam itu sampai akhirnya aku ketikung temen yang biasanya juga s...

Mengulang Kenangan (Hukuman Kawalan)

Waktu SMP, kami hanya sesekali bertegur sapa. Alasan utamanya karena beda kelas dan aku yang terlalu malas ber-hai-hai dengan orang lain.  Agak kaget, kukira hanya aku seorang dari SMP kami yang mendaftar dan lulus di SMK tersebut. SMK 1. Ternyata, di hari pengumuman, Eka menghubungiku. Eh aku lupa siapa duluan di antara kami yang menghubungi. Pokoknya, isi percakapannya "iya, aku juga lulus. TKJ kan?"  Begitulah menjadi panjang ceritanya. Dia nggak sendiri, bareng temennya yang dulu sekelas waktu SMP (eh iya nggak ya? Kayaknya aku harus minta klarifikasi Dea).  Lepas MOS (Ospek), aku minta Eka jadi teman sebangku, karena aku nggak mengenal siapapun di sini kecuali dirinya dan Dea. (Pengen nyeritain Dea juga tapi ini nggak akan cukup satu chapter). Dea setuju sewaktu kuminta Eka jadi teman sebangkuku. Padahal awalnya mereka yang ingin sebangku.  Dari situ semua berawal. Mulai dari Eka yang suka dengan seseorang di kelas kami, sedang laki-laki itu punya te...

Kutipan (Hukuman Kawalan)

Banyak yang mengira, bahwa pergi sangat menyakiti hingga kenangan saja tidak mampu mengobati rindunya. Padahal sebenarnya, pulanglah yang tidak punya penawar atas lara yang dirasa. Meski dengan memutar kembali ratusan reel film usang. 

Gara-Gara Roti Bakar (Hukuman Kawalan)

Sebagai seorang manusia, siapapun pernah bersalah. Sengaja atau tidak, menyesal atau justru menjadi-jadi. Pilihan itu ada pada kita, si penerima konsekuensi. Si angkuh yang sering meng-aku-kan diri, seolah semua bergerak sesuai kehendaknya. Padahal, kalau bukan karena kuasa Sang Pencipta, kita ini hanya tulang yang dibalut daging.  Tapi bukankah, seburuknya manusia, ialah yang bangga pada kesalahannya; dosanya? Maka, sebagai pendosa yang sering bersalah, aku tidak akan spill banyak-banyak. Tentang kesalahan yang seharusnya menjadi aib; juga rahasia yang sedang Allah tutup untuk diriku yang sekarang.  "Siapa suruh kalian beli makan di luar?! Di dalam ada kantin!"  Murka yang sudah kami hafal rautnya itu, membawa tangannya untuk berkacak pada pinggang di balik pintu besi yang sudah ditutup meski sekolah belum usai.  Aku, dan dua orang teman yang masing-masing memegang plastik buram terpaku untuk beberapa saat. Detik berikutnya saling tatap dengan air muka y...

Hukuman (Kutipan Kawalan)

Entah mengapa. Hukuman membuatku menulis lagi. Padahal awalnya terpaksa memilih paket karena Isma meneror lewat chat grup. 

Cha Eun Sang feat Bang Felix (Hukuman Kawalan) *3

Aku nggak tau dia mengingat ini atau enggak. Semoga sudah nggak ingat, karena sudah seharusnya dia lupakan ini. Namanya Felix; karakter yang aku ciptain di salah satu cerita di platform menulis. Aslinya orangnya ada, tapi Felix tentu bukan nama asli. Nggak banyak yang bisa kuingat untuk urusan contek-mencontek sewaktu ujian. Kalau hari biasa, sudah jelas si pemalas-pemalas kelas mengerumuni kami; beberapa pentolan kelas untuk urusan akademik, memelas minta diberi contekan. Tapi kalau sedang ujian, semuanya serba dibatasi. Lagipula, siapa yang mau, susah-capek-ngantuk yang kita relakan untuk belajar, menjadi batu loncatan bagi para pemalas.  Siapa yang mau? Coba jawab?  Kalau untuk ujian, mohon maaf lahir batin, aku agak selektif. Kecuali mereka yang bisa diajak tukeran. Ehe.  Salah satunya si oknum Felix yang membuat perjanjian denganku sebelum hari ujian. Waktu itu dia manggil aku "Cha Eun Sang", jijik nggak? Jijiklah, masa enggak?! (Sialan pake nada tiktok)...

Pertimbangan (Kutipan Kawalan)

Kita diberi akal bukan hanya untuk memberi makan napsu. Tapi, mempertimbangkan mana yang perlu diperjuangkan, mana yang sudah seharusnya dilepas. Juga, menakar diri seberapa pantas dan mampu. 

Tugas Sekolah (Hukuman Kawalan)

Untuk yang hari ini masih sekolah daring, kalian pasti lebih pusing mikirin tugas ketimbang nahan perasaan was-was sewaktu jadwal guru killer masuk kelas.  Parahnya lagi, kita nggak paham isi tugas tersebut. Karena jadwal temu terbatas ruang, disekat sinyal, belum lagi keberlangsungan kelas yang kadang tidak sesuai dengan jadwal tidur. Alhasil kamera dimatikan, sang guru kecarian. Izinnya ke toilet, padahal mau molor sambil dengan earphone tertancap pada dua lubang telinga; atau kalau sedang sial karena rusak sebelah, maka hanya sebelahnya saja yang digunakan. Dibanding sekarang, sekolah  tatap muka jaman dulu lebih membutuhkan effort. Ini pendapat pribadi ya. Karena, tugasnya banyak, sekolahnya sampai tengah hari lebih dikit. Belum lagi aku yang kurang kerjaan selalu nangkring di ICT Sekolah sebelum pulang ke rumah. Yah, bukan karena nggak ada yang dikerjain. Hanya, mencoba menambah ilmu dan jam praktek untuk mata pelajaran produktif karena anak SMK memang jam teo...