Langsung ke konten utama

Januariku Ngapain Aja? BCT | Hari Kesebelas Rangkap Tiga Puluh Satu

 

Ajaib memang. Bisa langsung lompat ke hari terakhir. 

Nggak terasa, ya. Januari nyaris usai dalam hitungan jam. Begitulah. Waktu berlalu bukan untuk kembali. Yang kita sesali nggak akan pernah datang lagi, kecuali kita memperbaiki di masa depan, untuk kesempatan yang lain. Misalnya 3 Hari Ngeblog yang aku alfa lebih dari setengah bulan, sepertinya. Padahal bulan depan nggak ada lagi event ini, kecuali Isma baik hati dan masih sabar merekrut kami.

Sedih sih, kesempatan ini sudah tinggal beberapa jam lagi. Padahal banyak sekali di dalam kepala yang ingin dibacotin. Mulai dari tetangga yang nggak pernah alfa kibotan, toleransi yang selalu nggak adil, tanggapan yang rerata dilabeli toxic positivity, kuliah yang nggak kunjung kelar, pertanyaan rangorang kapan niqa pake qiu sampai urusan hati. Ahaha enggakkk! Poin terakhir itu sedang tidak enak dibicarakan. Nggak yahud kayak dulu.

Sebenarnya, peristiwa tetangga yang tiap hari kibotan ini ada kaitannya sama toleransi. Ya gimana ya, kita disuruh toleransi sama tetangga yang hobinya nyanyi tuh. Tapi mereka nggak toleransi sama telinga kita yang notabennya juga punya telinga, selera lagu kami nggak sama, mana kadang musik jedag-jedug udah on going aja padahal subuh masih baru kelar. Jadi lah waktu itu, karena emakku orang yang paling nggak suka ngumpat terus, beliau nyamperin kakeknya yang pasang musik bak walimahan; minta volumenya dikecilin. Kakek-kakek dia betewe. Suka ngeri ngebayangin, beliau lagi nyanyi terus tiba-tiba nyawanya dicabut. Dahla masok mikrofonnya ke tenggorokan, jadilah filem indosi#r

Astaghfirullah. Aku bersoda sekali ya. Sebenernya pengen toleransi kalau mereka bisa toleransi juga ke kami. Paling banter malam minggu doang lah gitu. Akupun juga suka nyanyi kok, suka dengerin lagu, tapi di kamar, nggak kedengeran bahkan cuma sampai ruang duduk. Kalau begitu, adilkah toleransi yang sering kita koarkan?

Ini sih masih toleransi bertetangga, ya. Belum bernegara, dan yang ekstremnya itu beragama. Sampai di sini, bagusnya dibahas? Ntar aja deh, aku nggak cukup pinter buat hal ginian. Tapi yang pengin aku bilang, marilah toleransi sama kepercayaan orang. Jangan paksa dia ikutin yang kita percaya. Dan jangan komentari teman sekepercayaanmu karena dia tidak bisa ikut-ikutan budaya kepercayaan orang lain.

Bentar lagi kan valentine nih. Buat yang bilang nggak ngerayain, yaudah biarin. Jangan cap mereka begini begitu. Yakini saja apa yang kepercayaanmu katakan, apa yang kitabmu boleh dan tidak perbolehkan. Hidupmu ini nggak diatur sama manusia, seharusnya. Tapi diatur Tuhan-mu. Loh kok aku jadi ngegas???

Udah aku bilang, belum di awal, kalau penutup januari ini nggak lebih dari bacotan?

Mari kita tutup sesi toleransi. Selanjutnya ngebahas toxic positivity.

Ini nggak ilmiah sama sekali karena aku lagi males bacain literatur. #kayakbiasanyanggakmalesajangab. Ini cuma keresahanku pribadi. Soalnya, kadang-kadang aku bingung gitu ya kan kalau nanggepin curhatan orang. Pengen nyaranin dia buat bersyukur, tambah ibadah, tapi ujung-ujungnya dikata toxic positivity. Padahal artian toxic positivity yang sebenarnya aku juga sudah lupa. Waktu itu cuma nonton di videonya Gitasav, tahun 2019. Sekarang udah 2021, udah males searching. Percuma, semua kalimat penyemangat malah disamaratakan sebagai toxic positivity. Sumpah nulis englishnya tuh malesin. Kudu pakai italic dan hurufnya juga susah dijangkau jari.

Gegara inilah aku suka sakit kepala kalau ada yang curhat. Di beberapa bagian aku bisa jadi pendengar, tapi ada kalanya pengen ngomong, soalnya dia nanya solusi. Lagipula aku nggak nyaranin macem-macem. Aku cuma saranin tambah ibadah, banyak bersyukur karena di luar sana banyak orang yang lebih nggak beruntun dari kita. Tapi ada lagi nih yang bilang, “jangan jadikan kesusahan orang lain untuk sarana kita mensyukuri keadaan kita,” lah jadi bejimane. Saya ‘kan selaku calon istri Jay bingung. Dahla, fix, Jay keselek kugibahin.

Tapi, ah udahlah aku jadi pusing. Niat mau nulis buat nutup januari malah ngomel.

Buat penutupnya, mau ucapin makasih sama Dek Isma yang udah ngadain ini. Tanpa tantangan ini, aku nggak kepikiran ngeblog lagi. Emang lagi pusing sama Instagram, dan blog ternyata jadi alternatif yang cocok buatku. Isme ini gais, tulisannya bagus, tapi orang nggak boleh baca. Heran. Padahal kalau nggak salah ingat, dia udah punya tiga draft novel, aku minta dispill tapi nggak dikasih. Dahlah Is, mau diucapin apa lagi, Isma? Ulang tahunmu masih lama ‘kan. Nanti aja mbak bikinin fiksi waktu ulang tahun.

Terakhir. Janji deh ini paragraf terakhir. Makasih untuk orang yang meluangkan waktunya baca blog gaje ini. Sebenernya aku agak takut kalau abang itu ikut baca blog ini. Soalnya kan aku mau pencitraan depan dia. Tapi ketaone disini bobroknya aku. Eh di whatsapp juga ding.  Makasih, blogspot.com yang sudah menyediakan template gratis buat blogger abal-abal macam saya; yang kalau habis nulis lupa password. Terima kasih januari, terima kasih membersamai usiaku yang menua tapi belum membuahkan hasil yang baik. Tapi, alhamdulillah, tetap banyak pengajaran yang sampai padaku. Entah itu berwujud orang, maupun tulisan.

Selamat tinggal untuk januari yang tak akan bertemu kembali.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.