Nggak
terasa, ya. Januari nyaris usai dalam hitungan jam. Begitulah. Waktu berlalu
bukan untuk kembali. Yang kita sesali nggak akan pernah datang lagi, kecuali
kita memperbaiki di masa depan, untuk kesempatan yang lain. Misalnya 3 Hari
Ngeblog yang aku alfa lebih dari setengah bulan, sepertinya. Padahal bulan
depan nggak ada lagi event ini, kecuali Isma baik hati dan masih sabar merekrut
kami.
Sedih
sih, kesempatan ini sudah tinggal beberapa jam lagi. Padahal banyak sekali di
dalam kepala yang ingin dibacotin. Mulai dari tetangga yang nggak pernah
alfa kibotan, toleransi yang selalu nggak adil, tanggapan yang rerata
dilabeli toxic positivity, kuliah yang nggak kunjung kelar, pertanyaan rangorang
kapan niqa pake qiu sampai urusan hati. Ahaha enggakkk! Poin
terakhir itu sedang tidak enak dibicarakan. Nggak yahud kayak dulu.
Sebenarnya,
peristiwa tetangga yang tiap hari kibotan ini ada kaitannya sama
toleransi. Ya gimana ya, kita disuruh toleransi sama tetangga yang hobinya
nyanyi tuh. Tapi mereka nggak toleransi sama telinga kita yang notabennya juga
punya telinga, selera lagu kami nggak sama, mana kadang musik jedag-jedug udah
on going aja padahal subuh masih baru kelar. Jadi lah waktu itu, karena
emakku orang yang paling nggak suka ngumpat terus, beliau nyamperin kakeknya
yang pasang musik bak walimahan; minta volumenya dikecilin. Kakek-kakek dia
betewe. Suka ngeri ngebayangin, beliau lagi nyanyi terus tiba-tiba nyawanya dicabut.
Dahla masok mikrofonnya ke tenggorokan, jadilah filem indosi#r
Astaghfirullah.
Aku bersoda sekali ya. Sebenernya pengen toleransi kalau mereka bisa toleransi
juga ke kami. Paling banter malam minggu doang lah gitu. Akupun juga suka
nyanyi kok, suka dengerin lagu, tapi di kamar, nggak kedengeran bahkan cuma
sampai ruang duduk. Kalau begitu, adilkah toleransi yang sering kita koarkan?
Ini
sih masih toleransi bertetangga, ya. Belum bernegara, dan yang ekstremnya itu
beragama. Sampai di sini, bagusnya dibahas? Ntar aja deh, aku nggak cukup
pinter buat hal ginian. Tapi yang pengin aku bilang, marilah toleransi sama
kepercayaan orang. Jangan paksa dia ikutin yang kita percaya. Dan jangan
komentari teman sekepercayaanmu karena dia tidak bisa ikut-ikutan budaya
kepercayaan orang lain.
Bentar
lagi kan valentine nih. Buat yang bilang nggak ngerayain, yaudah biarin.
Jangan cap mereka begini begitu. Yakini saja apa yang kepercayaanmu katakan,
apa yang kitabmu boleh dan tidak perbolehkan. Hidupmu ini nggak diatur sama
manusia, seharusnya. Tapi diatur Tuhan-mu. Loh kok aku jadi ngegas???
Udah
aku bilang, belum di awal, kalau penutup januari ini nggak lebih dari bacotan?
Mari
kita tutup sesi toleransi. Selanjutnya ngebahas toxic positivity.
Ini
nggak ilmiah sama sekali karena aku lagi males bacain literatur.
#kayakbiasanyanggakmalesajangab. Ini cuma keresahanku pribadi. Soalnya,
kadang-kadang aku bingung gitu ya kan kalau nanggepin curhatan orang. Pengen nyaranin
dia buat bersyukur, tambah ibadah, tapi ujung-ujungnya dikata toxic positivity.
Padahal artian toxic positivity yang sebenarnya aku juga sudah lupa.
Waktu itu cuma nonton di videonya Gitasav, tahun 2019. Sekarang udah 2021, udah
males searching. Percuma, semua kalimat penyemangat malah disamaratakan
sebagai toxic positivity. Sumpah nulis englishnya tuh malesin. Kudu
pakai italic dan hurufnya juga susah dijangkau jari.
Gegara
inilah
aku suka sakit kepala kalau ada yang curhat. Di beberapa bagian aku bisa jadi
pendengar, tapi ada kalanya pengen ngomong, soalnya dia nanya solusi. Lagipula aku
nggak nyaranin macem-macem. Aku cuma saranin tambah ibadah, banyak bersyukur
karena di luar sana banyak orang yang lebih nggak beruntun dari kita. Tapi ada
lagi nih yang bilang, “jangan jadikan kesusahan orang lain untuk sarana kita
mensyukuri keadaan kita,” lah jadi bejimane. Saya ‘kan selaku calon istri Jay
bingung. Dahla, fix, Jay keselek kugibahin.
Tapi,
ah udahlah aku jadi pusing. Niat mau nulis buat nutup januari malah ngomel.
Buat
penutupnya, mau ucapin makasih sama Dek Isma yang udah ngadain ini. Tanpa
tantangan ini, aku nggak kepikiran ngeblog lagi. Emang lagi pusing sama
Instagram, dan blog ternyata jadi alternatif yang cocok buatku. Isme ini gais,
tulisannya bagus, tapi orang nggak boleh baca. Heran. Padahal kalau nggak salah
ingat, dia udah punya tiga draft novel, aku minta dispill tapi nggak
dikasih. Dahlah Is, mau diucapin apa lagi, Isma? Ulang tahunmu masih lama ‘kan.
Nanti aja mbak bikinin fiksi waktu ulang tahun.
Terakhir.
Janji deh ini paragraf terakhir. Makasih untuk orang yang meluangkan waktunya
baca blog gaje ini. Sebenernya aku agak takut kalau abang itu ikut baca blog
ini. Soalnya kan aku mau pencitraan depan dia. Tapi ketaone disini bobroknya
aku. Eh di whatsapp juga ding. Makasih,
blogspot.com yang sudah menyediakan template gratis buat blogger abal-abal macam
saya; yang kalau habis nulis lupa password. Terima kasih januari, terima kasih
membersamai usiaku yang menua tapi belum membuahkan hasil yang baik. Tapi,
alhamdulillah, tetap banyak pengajaran yang sampai padaku. Entah itu berwujud
orang, maupun tulisan.
Selamat
tinggal untuk januari yang tak akan bertemu kembali.

Komentar
Posting Komentar