Langsung ke konten utama

Run and Write | Hari Kesepuluh

 



 Prolog

Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.

“Pemred ... Pemred ...” Ia masih kesusahan menyuap kalimat meski kepalanya sudah menegak. Sepertinya gadis itu maraton jauh sekali sampai tak bisa bicara dengan benar bahkan sampai di ruangan yang sejak tadi dipenuhi berbagai argumen tersebut.

“Duduk dulu, Jen,” titah pimpinan rapat. Pemimpin Umum yang juga usianya paling tua diantara tujuh orang lainnya; termasuk si Manajer Tim Lapangan yang baru saja tiba itu.

“Nggak bisa, Bang,” tolaknya, memaksa dirinya sendiri untuk siap bicara dengan jelas. Ya, harus jelas. Tidak ada waktu untuk memanjakan diri meski sejak sepuluh menit lalu tubuhnya nyaris terhimpit diantara kerumunan orang-orang yang mulai anarkis.  “Pemred dipanggil ke Gedung Birokrat.” Akhirnya ia menyuap kalimatnya, sebuah penjelasan yang mestinya tak perlu dipanjangkan lagi karena orang-orang ini pasti sudah tahu alasannya.

Pemimpin Redaksi berdiri dari duduknya secara spontan mendengar kabar tersebut. Sebenarnya, ini bukan pertama kali mendengar hal semacam ini. Tapi sungguh, ia tak siap dengan hal yang baru akan dia hadapi di hari pertama bertugas; sebab biasanya dia hanyalah penonton.

“Sha.”

Sasha baru akan membawa langkahnya, meninggalkan ruangan. Tapi lengannya ditahan. Cengkraman dari tangan yang lebih besar menahan pergerakannya sampai akhirnya Sasha menoleh. Ia baru bisa berpikir kalau, tidak seharusnya meninggalkan ruang rapat begitu saja tanpa izin. Ia lupa, sungguh. Panik sekali sampai tidak memerhatikan etika rapat.

“Maaf, Bang. Sasha lupa izin─”

“Abang ikut!”

Sasha mendelik setelah kalimatnya terpotong. Kali ini matanya menyisir satu persatu peserta rapat yang sejak tadi menunjukkan raut cemas.

“Rapat kita tunda sampai pemberitahuan selanjutnya. Silakan Bang Dirga, dan Sasha berangkat ke Biro.”

Lepas kepergian Dirga dan Sasha, seisi ruangan masih hening. Tidak ada yang bersuara, apalagi berinisiatif meninggalkan ruangan. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya, membatin kalau ternyata begini rasanya memundak tanggung jawab tersebut, bahkan di hari pertama bertugas. Buku rapat itu bahkan baru terisi dua baris.

“Selamat datang di dunia yang berat, kawan.”

Alanza tersadar lebih dulu. Bersama dengan kalimatnya, perempuan berkemeja oversize kotak-kotak itu menutup buku catatan miliknya, lantas berdiri dari duduknya. “Ada yang mau Chatime? Gue yang traktir.” Kalimat itu seolah menyadarkan semuanya. Tapi belum ada sahutan sampai Alanza benar-benar menghilang dari  balik pintu kaca yang tadi sudah tertutup kembali.

Fin, 28/01/21 - Orizuru

Entah seharusnya aku masih ikutan challange ini atau nggak. Tapi ini kulakukan karena aku rindu nulis, dan prolog ini terlintas begitu saja saat kepalaku sedang pusing karena sudah empat hari menatap monitor terus menerus sambil mendengarkan lagu-lagu Korea kesukaanku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?