Prolog
Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.
“Pemred
... Pemred ...” Ia masih kesusahan menyuap kalimat meski kepalanya sudah
menegak. Sepertinya gadis itu maraton jauh sekali sampai tak bisa bicara dengan
benar bahkan sampai di ruangan yang sejak tadi dipenuhi berbagai argumen
tersebut.
“Duduk
dulu, Jen,” titah pimpinan rapat. Pemimpin Umum yang juga usianya paling tua
diantara tujuh orang lainnya; termasuk si Manajer Tim Lapangan yang baru saja
tiba itu.
“Nggak
bisa, Bang,” tolaknya, memaksa dirinya sendiri untuk siap bicara dengan jelas. Ya,
harus jelas. Tidak ada waktu untuk memanjakan diri meski sejak sepuluh menit
lalu tubuhnya nyaris terhimpit diantara kerumunan orang-orang yang mulai
anarkis. “Pemred dipanggil ke Gedung
Birokrat.” Akhirnya ia menyuap kalimatnya, sebuah penjelasan yang mestinya tak
perlu dipanjangkan lagi karena orang-orang ini pasti sudah tahu alasannya.
Pemimpin
Redaksi berdiri dari duduknya secara spontan mendengar kabar tersebut. Sebenarnya,
ini bukan pertama kali mendengar hal semacam ini. Tapi sungguh, ia tak siap
dengan hal yang baru akan dia hadapi di hari pertama bertugas; sebab biasanya
dia hanyalah penonton.
“Sha.”
Sasha
baru akan membawa langkahnya, meninggalkan ruangan. Tapi lengannya ditahan. Cengkraman
dari tangan yang lebih besar menahan pergerakannya sampai akhirnya Sasha
menoleh. Ia baru bisa berpikir kalau, tidak seharusnya meninggalkan ruang rapat
begitu saja tanpa izin. Ia lupa, sungguh. Panik sekali sampai tidak memerhatikan
etika rapat.
“Maaf,
Bang. Sasha lupa izin─”
“Abang
ikut!”
Sasha
mendelik setelah kalimatnya terpotong. Kali ini matanya menyisir satu persatu peserta
rapat yang sejak tadi menunjukkan raut cemas.
“Rapat
kita tunda sampai pemberitahuan selanjutnya. Silakan Bang Dirga, dan Sasha
berangkat ke Biro.”
Lepas
kepergian Dirga dan Sasha, seisi ruangan masih hening. Tidak ada yang bersuara,
apalagi berinisiatif meninggalkan ruangan. Masing-masing tenggelam dalam
pikirannya, membatin kalau ternyata begini rasanya memundak tanggung jawab
tersebut, bahkan di hari pertama bertugas. Buku rapat itu bahkan baru terisi
dua baris.
“Selamat
datang di dunia yang berat, kawan.”
Alanza tersadar lebih dulu. Bersama dengan kalimatnya, perempuan berkemeja oversize kotak-kotak itu menutup buku catatan miliknya, lantas berdiri dari duduknya. “Ada yang mau Chatime? Gue yang traktir.” Kalimat itu seolah menyadarkan semuanya. Tapi belum ada sahutan sampai Alanza benar-benar menghilang dari balik pintu kaca yang tadi sudah tertutup kembali.
Fin, 28/01/21 - Orizuru
Entah seharusnya aku masih ikutan challange ini atau nggak. Tapi ini kulakukan karena aku rindu nulis, dan prolog ini terlintas begitu saja saat kepalaku sedang pusing karena sudah empat hari menatap monitor terus menerus sambil mendengarkan lagu-lagu Korea kesukaanku.
Komentar
Posting Komentar