“Candra. Ini mama. Maafkan mama, ya?”
Dari
luar ruang ICU yang dibatasi dinding kaca tebal, Binar memaku. Ia menyayangkan
dirinya sendiri, mengapa harus mengerti arti gerakan mulut yang dibuat ibunya.
Mengapa wanita itu justru menurunkan maskernya ke dagu di dalam ruangan minim
akses begini?
Harus
ia akui, keterkejutan mengenai fakta hubungan dirinya dengan Candra belum bisa
diterima akalnya. Sejak kecil, ia tidak pernah mengenal siapa ayahnya, memilih
tidak menanyakan siapa pria brengsek yang tega meninggalkan dirinya dan ibunya
itu. Apalagi sampai menanyakan, apakah dia memiliki saudara kandung yang
terpisah dengannya sewaktu mereka masih sangat kecil?
“Bin
...”
Tangan
besar itu menyambangi pundaknya. Dingin sebab terlalu lama berdiam diri di
lorong rumah sakit. “Maaf.”
***
“Maaf
gue baru bisa datang.”
Napas
Jack terengah-engah setelah membawa kakinya menyusuri lorong-lorong rumah
sakit, belum lagi tersesat karena dengan bodohnya dia tidak meilhat denah rumah
sakit juga melewatkan kesempatan untuk bertanya di konter perawat. Jadilah
dirinya bolak-balik melalui tangga darurat tanpa tahu kemana sebenarnya dia
harus pergi untuk menemukan Ruang ICU. Elevator selalu penuh seolah tidak ada
keberpihakan padanya serta membuatnya membintangi drama dengan naik turun
tangga.
Nina
mendongak setelah beberapa waktu lalu memilih menunduk di salah satu bangku panjang ruang tunggu.
“Kabar soal penyakit Candra belum sampai ke gue, entah pihak medis yang terlalu
lama atau informasi ini tertahan di pihak keluarga.” Gadis itu menerangkan
secara rinci bahkan sebelum Jack menanyainya. Jack sendiri sudah tidak ada
kabar selama nyaris seminggu setelah keluar dari band. Pemuda itu entah pergi
kemana selama itu, karena saat Nina mengintip di gang rumahnya, Jack tidak di
sana. Ia baru terlihat pulang setelah jam 8 malam yang Nina tahu merupakan
jadwalnya pulang kerja. Sebenarnya Nina sudah mengunjungi bengkel tempat Jack
bekerja tapi sungguh, lelaki itu tidak di sana. Nina mulai pusing kalau
memikirkan itu, juga lelah karena sudah hampir seminggu dirinya mencari tahu
meski tanpa informasi apapun.
“Apa
memang harus ada kejadian mengerikan kayak gini, biar lo dateng lagi ke kita?”
Pertanyaan
itu bagi Jack tidak membutuhkan jawaban. Ia memilih diam sembari mengatur
napasnya yang masih belum netral. Bukan Nina namanya kalau tidak mengharapkan
sahutan dari Jack, sesingkat apapun itu. Memang tidak ada yang bisa memaksa
Jack bicara kecuali Nina. Dan itu masih berlaku hingga hari ini, meski jeda
pertemuan mereka sudah cukup panjang.
“Gue
nggak pernah nyangka bakal ada kejadian begini.”
“Memangnya
lo pernah ngekhawatirin kita, sampai lo harus susah payah mikirin kesehatan
salah satu dari kita. Gue nggak pernah pengen nyalahin lo kenapa ini bisa
terjadi sama Candra, tapi yang lo harus tau, anak laki-laki yang wajahnya imut
itu ternyata nyariin lo kemana-mana lebih heboh daripada gue. Dan gue baru tau
karena Binar ngaku nemenin dia.”
“Jangan
cari gue kemanapun. Hidup kayak biasanya seolah kita nggak pernah kenal.”
“Binar
saudara kembar Candra. Dan saking shocknya, Binar nggak terima soal ini.
Dia ngamuk setelah tahu fakta itu. Dan, kayaknya kita memang benaran berakhir
terlepas dari permintaan konyol lo itu.”
“Kita
... Binar ... Candra ...”
Bagi
Jack, terlalu sulit untuk memperlihatkan keterkejutannya. Ia tidak tahu harus
berkata apalagi. Menyebut nama dua sahabatnya itu, bahkan terbata. Keadaannya semakin rumit.
Kenapa
Binar tidak menerima ini sementara selama ini dia sangat dekat dengan Candra
dan sering diledek seperti saudara kembar oleh Nina?
Pikirannya
kacau, tak mampu menakar apa yang sedang dalam pikiran Binar; si cowok lugu
yang tingkahnya kadang menggemaskan. Selalu perhatian dengan Candra seolah
Candra adalah adiknya. Entah mengapa Binar jadi bersikap seperti yang
diceritakan oleh Nina.
“Padahal
Binar bilang dia sayang banget sama Candra. Sebelum kejadian ini,” gumam Nina.
Nadanya terdengar frustasi. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada dinding
bercat putih polos yang dingin tersebut. Nina membiarkan penciumannya diserbu
aroma obat-obatan yang lazim menguap di rumah sakit.
***
Jack
bahkan belum memastikan bagaimana keadaan Binar serta Candra yang kini
berbaring di kasur dengan banyak peralatan medis menempeli tubuhnya. Pemuda itu
sudah pergi meninggalkan Nina yang masih tidak tahu harus bagaimana. Yang jelas, nurani Nina mengajak untuk dirinya
segera menemui Binar di depan Ruang ICU, bukan justru menunggu di sini tanpa
melakukan apapun.
“Udah
waktunya makan malam, Bin. Ayo kita cari makan ke cafetaria rumah sakit.”
Tanpa
menunggu persetujuan dari Binar, gadis itu menarik lengan Binar untuk menjauh
dari sana. Binar sendiri tidak melakukan penolakan. Kakinya terus melangkah mengikuti
jejak kaki Nina di atas lantai keramik putih itu.
Sup
ayam dengan asap mengepul, berisi potongan ayam serta wortel dan buncis
tersebut belum disentuh Binar sejak Nina menyodorkannya lima belas menit lalu. Pemuda
berhidung runcing tersebut hanya memandangi mangkuk di depannya.
“Lo
pengen apa biar gue pesenin. Sate? Mi ayam? Baso?”
Nina
sudah mengabsen makanan yang biasa mereka makan di sekolah dan yang ia sebutkan
semua itu yang biasa Binar makan. Gadis tersebut tidak mengerti harus
menawarkan apa lagi karena setaunya, Binar tidak selalu memakan itu semua. Lebih
sering membawa bekal yang dibuatkan mamanya.
“Bin.
Ayo makan. Gue nggak tahu caranya ngehibur lo dari semua kekacauan ini, tapi cuma
ini yang bisa gue lakuin. Mastiin lo tetap makan.”
“Setelah
tau fakta bahwa Candra adalah saudara kembar gue, entah kenapa gue marah. Selama
ini dia hidup baik-baik aja dengan orang tua lengkap, sementara gue harus
tinggal berdua sama mama. Tiap hari selalu mergokin mama ngelamun, kadang-kadang
nangis sambil ngiris bawang putih. Gue tau, bawang putih gak cukup buat mata
mama perih tapi gue pura-pura nggak tau kalo itu cuma alasan yang dibuat mama. Sebenarnya
dia memang nangis, dan gue nggak tau kenapa. Gue nggak mau nanya karena nggak
ingin mama nginget kejadian menyedihkan itu lagi, jadi yang gue lakuin cuma meluk
mama, makan semua yang mama buatin dengan lahap, dan sekolah dengan baik,
berteman dengan orang-orang baik. Semuanya gue lakuin supaya mama nggak kecewa,
persis orang yang dulu buat mama kecewa dan ninggalin kami berdua.”
Binar
bicara sangat panjang setelah bungkamnya. Suaranya tidak cukup melengking seperti
biasa. Justru terdengar parau entah karena tidak ada sesuatupun yang masuk di
tenggorokannya, atau karena Binar menahan tangisnya pecah. Meski tidak tahu
bagaimana rasanya dibohongi selama tujuh belas tahun hidupnya, Nina sangat
mengerti bagaimana rasanya dikecewakan. Meski Binar tidak mengatakan itu, bagi
Nina, Binar kecewa mengapa pasangan yang dulu membawa Binar dan Candra ke dunia
ini baru mengatakan faktanya sekarang. Di saat Binar sudah nyaman hidup hanya
berdua dengan mamanya.
Satu
titik bulir bening yang sejak tadi sesak di pelupuk mata Nina, kini terjatuh.
Dia
hanya pendengar, tapi rasanya menyakitkan. Mengingat bagaimana dia pernah ada
di saat seperti ini ketika mentalnya tak cukup kuat menerima. Waktu itu, Jack
lah seseorang yang duduk di depannya, persis seperti yang Nina lakukan pada
Binar.
“Lo
boleh pulang ke apartemen gue kalau mau. Ricky di sana. Malam ini gue pulang ke
rumah, jadi nggak perlu sungkan tinggal di apartemen gue sementara waktu.”
Sungguh
Nina tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Binar. Dia hanya
menawarkan tempat tinggalnya yang selama ini menjadi tempat pelarian. Mungkin tempat
itu sedang dibutuhkan Binar untuk menenangkan pikirannya. Mencerna kembali
tentang kejadian ini. Memikirkan lagi, mengapa dia harus mengikutsertakan
Candra ke dalam daftar orang yang tidak dia inginkan kehadirannya.
“Boleh?”
tanya Binar. Seolah memastikan kalau Nina sedang tidak bercanda.
“Iya.
Malam ini gue pulang ke rumah. Setelah mendengar semuanya dari lo, entah kenapa
tiba-tiba gue rindu mama. Lagipula, hubungan gue sama papi udah nggak seburuk
dulu.”
“Makasih
karena memutuskan untuk nggak ngehakimin perasaan gue.”
“Yang
terpenting, lo tenang dulu.”
***
“Tante?”
Nina
sedang menyelesaikan suapan terakhir pada nasi goreng pesanannya, tapi seorang
wanita yang sudah dua tahun ini dia kenal berdiri di hadapannya. Tepat di
belakang Binar yang sedang berusaha menelan supnya meski terlihat terpaksa.
Binar
menghentikan aktivitasnya. Sendoknya diletakkan kembali ke mangkuk. Mendadak kehilangan
selera untuk melanjutkan makan.
“Nina.
Boleh tante pinjam Binar sebentar?”
Nina
mengangguk. Tentu dia tidak memilik hak apapun soal Binar. Meski dia mengerti
Binar sedang tidak ingin bicara dengan mamanya, tapi paling tidak Binar harus
mendengarkan sesuatu sebelum malam ini meninggalkan rumah. Entah berapa hari
Binar siap kembali ke sana.
Setelah
menyilakan wanita tersebut duduk, Nina pamit pergi. Sebelum melangkah, gadis
itu menepuk pundak Binar. Menggumamkan sesuatu, “Nanti gue suruh Ricky jemput. Kasih
tau kalau udah selesai. Gue liat Candra bentar.” Binar menjawabnya dengan
anggukan, masih mengabaikan wanita yang kini duduk di hadapannya.
“Mama
tau kamu kecewa dan marah. Tapi Bin, bukankah seharusnya kalian udah terbiasa
bareng-bareng? Lagipula Bin, pikirkan ini. Candra bahkan nggak pernah tau
rasanya ASI dan ditimang seorang ibu. Mama
tirinya ada setelah dia siap untu masuk playground. Papanya ... maksudnya papa
kalian nggak ngerawat dia sebaik mama ngerawat kamu sewaktu bayi. Itulah kenapa Candra bisa sakit separah ini.
Bin, mama sayang banget sama Binar. Binar mau kan, mulai sekarang berbagi kasih
sayang sama Candra? Mama tau ini sedikit egois, tapi paling nggak selama sisa
hidup Candra, dia punya kita. Kamu sebagai saudara kandungnya, dan mama sebagai
seseorang yang seharusnya merawat Candra. Mau kan, Bin?”
Bukannya
menyahuti, Binar justru bangkit dari duduknya. Tanpa sepatah katapun, pemuda
itu meninggalkan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya. Binar menjauh
dari kursi cafetaria, meninggalkan sup ayam yang baru dua suap masuk ke
perutnya, itupun atas bujukan Nina.
Binar
merogoh ponselnya di saku almamater sekolah. Mengetikkan sederet kalimat
melalui layar ponsel dengan kecerahan medium tersebut.
Kirimin
alamat apartemennya. Gue ke sana naik bis. Nggak perlu dijemput Ricky.
***
Sudah
seminggu sejak surat pengunduran dirinya diterima oleh Nicholas. Pemuda itu
meminta Jack menemuinya di tribun sekolah. Ada yang ingin disampaikan, karena
Nicholas khawatir Jack masih tidak pergi ke sekolah untuk beberapa hari ini
setelah seminggu absen tanpa keterangan.
“Untuk
apa medsos dibuat kalau lo ngajak ketemuan di tribun malam-malam begini?”
Nicholas
berdiri dari duduknya setelah menunggu nyaris sejam. Sama sekali tidak mengerti
kenapa Jack jadi manusia super telat. Lelaki itu sungguh ingin mengomeli Jack
seperti biasanya ketika mereka bekerjasama di Osis, tapi kali ini tertahan. Dari
kelakuan Jack, serta raut yang bisa ia lihat malam ini meski dengan penerangan
yang minim; Nicholas menahannya. Sepertinya memang sedang tidak tepat.
“Gue
bawain hardisk di komputer pendaftaran basket. Foto-foto lo terlalu
banyak, jadi gue bawain supaya lo backup datanya. Ini cuma antisipasi
sebelum akhirnya lo juga ngundurin diri sebagai kapten basket.” Nicholas
menyodorkan paperbag bekas jam tangan yang diberi seseorang untuknya.
Isinya tentu hardisk yang dia sebutkan tadi.
“Gue
bahkan harus ninggalin basket.”
Mendengar
jawaban Jack, Nicholas hanya manggut-manggut. Membiarkan paperbag itu
menjadi milik Jack. Sementara Jack, lelaki itu berbalik begitu saja, menjauh
menuruni tribun.
“Jack!”
seru Nicholas, tepat saat Jack berjingkat di tangga paling bawah. Lelaki itu
menoleh. “Kapan lo perlu bantuan gue, bilang aja. Nomor gue nggak akan ganti. Lagipula
lo bisa ngubungin gue di Line, IG, Kakao,Twitter, dan Whatsapp tentunya.”
Nicholas
memang secerewet itu, juga sejujur itu. Dari cara dia menyebutkan semua medsos
yang dimilikinya, Nicholas memang seserius itu menunggu Jack menceritakan semuanya.
Alasan mengapa dia harus meninggalkan dua amanah sekaligus dalam satu waktu.
“Thanks,
chill.”
Chill
adalah ledekan Jack untuk Nicholas karena Ketua Osisnya itu kerap mengatakan “chill,
bro” tiapkali rapat mulai ribut.
***
Yang
dia lakukan pertama kali setelah sampai di kamarnya adalah membuka isi hardisk
komputer basket untuk memindahkan isi yag rerata adalah foto miliknya. Diprotret
langsung oleh calon masternim, Ayunina Pradita. Tangannya mulai
menggerakkan tetikus kabel berwarna putih yang dia beli di toko buku. Untungnya
tombol scroll di tengah berfungsi dengan baik, membuat Jack cekatan
memindahkan satu-persatu folder foto milik, sampai akhirnya gerakan tetikus itu
terhenti.
Jack
menyipitkan matanya, memastikan folder ini juga miliknya. Tapi seingatnya dia
tidak pernah membuat nama folder dengan ‘Kebun Bunga Matahari Yang Cerah’. apa-apaan
ini? Siapa yang mengarang nama folder melebihi kenorakannya memberi nama ‘Nina’s
Masterpiece’ pada folder fotonya yang diambil oleh Nina?
Penasaran
dengan isinya, Jack akhirnya membuka folder yang menyelip diantara Nina’s
Masterpiece tersebut.
Jack
tertegun. Wajah ini adalah seseorang yang tengah terbaring di Ruang ICU sana. Seseorang
yang tengah berjuang atas hidupnya. Tidak hanya satu. Ada ratusan foto setelah
Jack mengeceknya. Beberapa foto terlihat wajahnya juga Nina. Tapi secara
keseluruhan, folder ini seolah hanya milik Binar dan Candra. Berisi foto-foto mereka
berdua dengan senyum yang selalu cerah. Masih belum memahami mengapa Candra
menyimpan ini di sini, ia terus menggulir kursornya sampai akhirnya menemukan
satu file word di sana.
Kakak.
Kamu tahu kan kalau aku adalah kebun, sedangkan kamu adalah bunga mataharinya. Senyummu
seperti matahari, tapi kalau benaran matahari rasanya sangat panas. Jadi lebih
baik jadi bunganya saja.
Aku
sudah tahu, mulai beberapa waktu lalu kalau Binar yang kukenal adalah saudara
kembarku. Kakak yang lahir satu jam sebelum aku. Hehe, maaf formal banget
padahal biasanya kita tengkar mulu kaya kucing sama serigala.
Bin,
ah gue panggil lo Binar aja deh biar nggak canggung. Lo kan emang lebih suka
dipanggil Binar tanpa embel-embel apapun.
Maaf
ya kalo selama ini gue ninggalin lo. Maaf gue nggak pernah ada di saat-saat loe
butuh temen semasa kecil. Maaf kalau akhirnya lo harus berbagi mama sama gue. Maaf
kalo gue penyakitan. Tapi, lo nggak perlu ngerawat gue, Bin. Lo harus tetap
sehat apapun yang terjadi sama gue. Anggap aja itu bayaran karena gue nggak ada
dua tahun lalu waktu lo juga berjuang ngelawan penyakit yang bikin lo nggak
bisa kelelahan itu.
Selain
itu, gue mohon lo mau maafin kesalahan orang tua kita. Mereka nggak bener-bener
siap menikah waktu itu, dan manut sewaktu nenek minta mereka pisah tepat
setelah kita berdua lahir. Kedengerannya egois memang, tapi lo harus
pertimbangin ini, karena kita juga nggak bisa meminta dari siapa kita harus
lahir. Kita nggak bisa milih orang tua. Yang bisa kita lakuin sekarang cuma
berusaha untuk nggak ngulangin kesalahan yang udah mereka dan nenek kakek kita
lakuin. Kita harus hidup bahagia, Bin.
Bin,
gue sengaja nyimpen di sini. Gue nggak tau kapan lo baca ini dan atas alasan
apa lo ngebuka folder di komputer ini karena kita sama-sama bukan anak basket. Tapi,
menurut gue, dengan disimpennya folder ini di sini, suatu saat nanti seseorang
bakal nyampein ke lo. Siapa tau gue nggak sempat minta maaf secara langsung ke
lo.
Untuk
kakak kembarku, Binar Satrio.
***
Nina
baru saja sampai di kamar yang sudah dia tinggalkan selama dua tahun, mendadak notifikasi
pesan, masuk ke ponselnya. Dari Jack, setelah sekian lama mereka tidak mengobrol
di aplikasi chat.
Periksa
dokumen sama beberapa foto yang gue kirim.
Mungkin
Binar juga harus tau ini. Gue nggak tau ini bisa ngebantu pulihin Binar atau
enggak. Tapi, Candra beneran pengen ini sampai ke Binar. Maaf ganggu lo
malem-malem.
Komentar
Posting Komentar