Langsung ke konten utama

KITA YANG TIDAK BERHAK MEMILIH-HARI KETUJUH


“Candra. Ini mama. Maafkan mama, ya?”

 

Dari luar ruang ICU yang dibatasi dinding kaca tebal, Binar memaku. Ia menyayangkan dirinya sendiri, mengapa harus mengerti arti gerakan mulut yang dibuat ibunya. Mengapa wanita itu justru menurunkan maskernya ke dagu di dalam ruangan minim akses begini?

Harus ia akui, keterkejutan mengenai fakta hubungan dirinya dengan Candra belum bisa diterima akalnya. Sejak kecil, ia tidak pernah mengenal siapa ayahnya, memilih tidak menanyakan siapa pria brengsek yang tega meninggalkan dirinya dan ibunya itu. Apalagi sampai menanyakan, apakah dia memiliki saudara kandung yang terpisah dengannya sewaktu mereka masih sangat kecil?

“Bin ...”

Tangan besar itu menyambangi pundaknya. Dingin sebab terlalu lama berdiam diri di lorong rumah sakit. “Maaf.”

***

“Maaf gue baru bisa datang.”

Napas Jack terengah-engah setelah membawa kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, belum lagi tersesat karena dengan bodohnya dia tidak meilhat denah rumah sakit juga melewatkan kesempatan untuk bertanya di konter perawat. Jadilah dirinya bolak-balik melalui tangga darurat tanpa tahu kemana sebenarnya dia harus pergi untuk menemukan Ruang ICU. Elevator selalu penuh seolah tidak ada keberpihakan padanya serta membuatnya membintangi drama dengan naik turun tangga.

Nina mendongak setelah beberapa waktu lalu memilih menunduk  di salah satu bangku panjang ruang tunggu. “Kabar soal penyakit Candra belum sampai ke gue, entah pihak medis yang terlalu lama atau informasi ini tertahan di pihak keluarga.” Gadis itu menerangkan secara rinci bahkan sebelum Jack menanyainya. Jack sendiri sudah tidak ada kabar selama nyaris seminggu setelah keluar dari band. Pemuda itu entah pergi kemana selama itu, karena saat Nina mengintip di gang rumahnya, Jack tidak di sana. Ia baru terlihat pulang setelah jam 8 malam yang Nina tahu merupakan jadwalnya pulang kerja. Sebenarnya Nina sudah mengunjungi bengkel tempat Jack bekerja tapi sungguh, lelaki itu tidak di sana. Nina mulai pusing kalau memikirkan itu, juga lelah karena sudah hampir seminggu dirinya mencari tahu meski tanpa informasi apapun.

“Apa memang harus ada kejadian mengerikan kayak gini, biar lo dateng lagi ke kita?”

Pertanyaan itu bagi Jack tidak membutuhkan jawaban. Ia memilih diam sembari mengatur napasnya yang masih belum netral. Bukan Nina namanya kalau tidak mengharapkan sahutan dari Jack, sesingkat apapun itu. Memang tidak ada yang bisa memaksa Jack bicara kecuali Nina. Dan itu masih berlaku hingga hari ini, meski jeda pertemuan mereka sudah cukup panjang.

“Gue nggak pernah nyangka bakal ada kejadian begini.”

“Memangnya lo pernah ngekhawatirin kita, sampai lo harus susah payah mikirin kesehatan salah satu dari kita. Gue nggak pernah pengen nyalahin lo kenapa ini bisa terjadi sama Candra, tapi yang lo harus tau, anak laki-laki yang wajahnya imut itu ternyata nyariin lo kemana-mana lebih heboh daripada gue. Dan gue baru tau karena Binar ngaku nemenin dia.”

“Jangan cari gue kemanapun. Hidup kayak biasanya seolah kita nggak pernah kenal.”

“Binar saudara kembar Candra. Dan saking shocknya, Binar nggak terima soal ini. Dia ngamuk setelah tahu fakta itu. Dan, kayaknya kita memang benaran berakhir terlepas dari permintaan konyol lo itu.”

“Kita ... Binar ... Candra ...”

Bagi Jack, terlalu sulit untuk memperlihatkan keterkejutannya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Menyebut nama dua sahabatnya itu, bahkan terbata.  Keadaannya semakin rumit.

Kenapa Binar tidak menerima ini sementara selama ini dia sangat dekat dengan Candra dan sering diledek seperti saudara kembar oleh Nina?

Pikirannya kacau, tak mampu menakar apa yang sedang dalam pikiran Binar; si cowok lugu yang tingkahnya kadang menggemaskan. Selalu perhatian dengan Candra seolah Candra adalah adiknya. Entah mengapa Binar jadi bersikap seperti yang diceritakan oleh Nina.

“Padahal Binar bilang dia sayang banget sama Candra. Sebelum kejadian ini,” gumam Nina. Nadanya terdengar frustasi. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada dinding bercat putih polos yang dingin tersebut. Nina membiarkan penciumannya diserbu aroma obat-obatan yang lazim menguap di rumah sakit.

***

Jack bahkan belum memastikan bagaimana keadaan Binar serta Candra yang kini berbaring di kasur dengan banyak peralatan medis menempeli tubuhnya. Pemuda itu sudah pergi meninggalkan Nina yang masih tidak tahu harus bagaimana. Yang  jelas, nurani Nina mengajak untuk dirinya segera menemui Binar di depan Ruang ICU, bukan justru menunggu di sini tanpa melakukan apapun.

“Udah waktunya makan malam, Bin. Ayo kita cari makan ke cafetaria rumah sakit.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Binar, gadis itu menarik lengan Binar untuk menjauh dari sana. Binar sendiri tidak melakukan penolakan. Kakinya terus melangkah mengikuti jejak kaki Nina di atas lantai keramik putih itu.

Sup ayam dengan asap mengepul, berisi potongan ayam serta wortel dan buncis tersebut belum disentuh Binar sejak Nina menyodorkannya lima belas menit lalu. Pemuda berhidung runcing tersebut hanya memandangi mangkuk di depannya.

“Lo pengen apa biar gue pesenin. Sate? Mi ayam? Baso?”

Nina sudah mengabsen makanan yang biasa mereka makan di sekolah dan yang ia sebutkan semua itu yang biasa Binar makan. Gadis tersebut tidak mengerti harus menawarkan apa lagi karena setaunya, Binar tidak selalu memakan itu semua. Lebih sering membawa bekal yang dibuatkan mamanya.

“Bin. Ayo makan. Gue nggak tahu caranya ngehibur lo dari semua kekacauan ini, tapi cuma ini yang bisa gue lakuin. Mastiin lo tetap makan.”

“Setelah tau fakta bahwa Candra adalah saudara kembar gue, entah kenapa gue marah. Selama ini dia hidup baik-baik aja dengan orang tua lengkap, sementara gue harus tinggal berdua sama mama. Tiap hari selalu mergokin mama ngelamun, kadang-kadang nangis sambil ngiris bawang putih. Gue tau, bawang putih gak cukup buat mata mama perih tapi gue pura-pura nggak tau kalo itu cuma alasan yang dibuat mama. Sebenarnya dia memang nangis, dan gue nggak tau kenapa. Gue nggak mau nanya karena nggak ingin mama nginget kejadian menyedihkan itu lagi, jadi yang gue lakuin cuma meluk mama, makan semua yang mama buatin dengan lahap, dan sekolah dengan baik, berteman dengan orang-orang baik. Semuanya gue lakuin supaya mama nggak kecewa, persis orang yang dulu buat mama kecewa dan ninggalin kami berdua.”

Binar bicara sangat panjang setelah bungkamnya. Suaranya tidak cukup melengking seperti biasa. Justru terdengar parau entah karena tidak ada sesuatupun yang masuk di tenggorokannya, atau karena Binar menahan tangisnya pecah. Meski tidak tahu bagaimana rasanya dibohongi selama tujuh belas tahun hidupnya, Nina sangat mengerti bagaimana rasanya dikecewakan. Meski Binar tidak mengatakan itu, bagi Nina, Binar kecewa mengapa pasangan yang dulu membawa Binar dan Candra ke dunia ini baru mengatakan faktanya sekarang. Di saat Binar sudah nyaman hidup hanya berdua dengan mamanya.

Satu titik bulir bening yang sejak tadi sesak di pelupuk mata Nina, kini terjatuh.

Dia hanya pendengar, tapi rasanya menyakitkan. Mengingat bagaimana dia pernah ada di saat seperti ini ketika mentalnya tak cukup kuat menerima. Waktu itu, Jack lah seseorang yang duduk di depannya, persis seperti yang Nina lakukan pada Binar.

“Lo boleh pulang ke apartemen gue kalau mau. Ricky di sana. Malam ini gue pulang ke rumah, jadi nggak perlu sungkan tinggal di apartemen gue sementara waktu.”

Sungguh Nina tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Binar. Dia hanya menawarkan tempat tinggalnya yang selama ini menjadi tempat pelarian. Mungkin tempat itu sedang dibutuhkan Binar untuk menenangkan pikirannya. Mencerna kembali tentang kejadian ini. Memikirkan lagi, mengapa dia harus mengikutsertakan Candra ke dalam daftar orang yang tidak dia inginkan kehadirannya.

“Boleh?” tanya Binar. Seolah memastikan kalau Nina sedang tidak bercanda.

“Iya. Malam ini gue pulang ke rumah. Setelah mendengar semuanya dari lo, entah kenapa tiba-tiba gue rindu mama. Lagipula, hubungan gue sama papi udah nggak seburuk dulu.”

“Makasih karena memutuskan untuk nggak ngehakimin perasaan gue.”

“Yang terpenting, lo tenang dulu.”

***

“Tante?”

Nina sedang menyelesaikan suapan terakhir pada nasi goreng pesanannya, tapi seorang wanita yang sudah dua tahun ini dia kenal berdiri di hadapannya. Tepat di belakang Binar yang sedang berusaha menelan supnya meski terlihat terpaksa.

Binar menghentikan aktivitasnya. Sendoknya diletakkan kembali ke mangkuk. Mendadak kehilangan selera untuk melanjutkan makan.

“Nina. Boleh tante pinjam Binar sebentar?”

Nina mengangguk. Tentu dia tidak memilik hak apapun soal Binar. Meski dia mengerti Binar sedang tidak ingin bicara dengan mamanya, tapi paling tidak Binar harus mendengarkan sesuatu sebelum malam ini meninggalkan rumah. Entah berapa hari Binar siap kembali ke sana.

Setelah menyilakan wanita tersebut duduk, Nina pamit pergi. Sebelum melangkah, gadis itu menepuk pundak Binar. Menggumamkan sesuatu, “Nanti gue suruh Ricky jemput. Kasih tau kalau udah selesai. Gue liat Candra bentar.” Binar menjawabnya dengan anggukan, masih mengabaikan wanita yang kini duduk di hadapannya.

“Mama tau kamu kecewa dan marah. Tapi Bin, bukankah seharusnya kalian udah terbiasa bareng-bareng? Lagipula Bin, pikirkan ini. Candra bahkan nggak pernah tau rasanya ASI dan ditimang seorang  ibu. Mama tirinya ada setelah dia siap untu masuk playground. Papanya ... maksudnya papa kalian nggak ngerawat dia sebaik mama ngerawat kamu sewaktu bayi.  Itulah kenapa Candra bisa sakit separah ini. Bin, mama sayang banget sama Binar. Binar mau kan, mulai sekarang berbagi kasih sayang sama Candra? Mama tau ini sedikit egois, tapi paling nggak selama sisa hidup Candra, dia punya kita. Kamu sebagai saudara kandungnya, dan mama sebagai seseorang yang seharusnya merawat Candra. Mau kan, Bin?”

Bukannya menyahuti, Binar justru bangkit dari duduknya. Tanpa sepatah katapun, pemuda itu meninggalkan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya. Binar menjauh dari kursi cafetaria, meninggalkan sup ayam yang baru dua suap masuk ke perutnya, itupun atas bujukan Nina.

Binar merogoh ponselnya di saku almamater sekolah. Mengetikkan sederet kalimat melalui layar ponsel dengan kecerahan medium tersebut.

Kirimin alamat apartemennya. Gue ke sana naik bis. Nggak perlu dijemput Ricky.

***

Sudah seminggu sejak surat pengunduran dirinya diterima oleh Nicholas. Pemuda itu meminta Jack menemuinya di tribun sekolah. Ada yang ingin disampaikan, karena Nicholas khawatir Jack masih tidak pergi ke sekolah untuk beberapa hari ini setelah seminggu absen tanpa keterangan.

“Untuk apa medsos dibuat kalau lo ngajak ketemuan di tribun malam-malam begini?”

Nicholas berdiri dari duduknya setelah menunggu nyaris sejam. Sama sekali tidak mengerti kenapa Jack jadi manusia super telat. Lelaki itu sungguh ingin mengomeli Jack seperti biasanya ketika mereka bekerjasama di Osis, tapi kali ini tertahan. Dari kelakuan Jack, serta raut yang bisa ia lihat malam ini meski dengan penerangan yang minim; Nicholas menahannya. Sepertinya memang sedang tidak tepat.

“Gue bawain hardisk di komputer pendaftaran basket. Foto-foto lo terlalu banyak, jadi gue bawain supaya lo backup datanya. Ini cuma antisipasi sebelum akhirnya lo juga ngundurin diri sebagai kapten basket.” Nicholas menyodorkan paperbag bekas jam tangan yang diberi seseorang untuknya. Isinya tentu hardisk yang dia sebutkan tadi.

“Gue bahkan harus ninggalin basket.”

Mendengar jawaban Jack, Nicholas hanya manggut-manggut. Membiarkan paperbag itu menjadi milik Jack. Sementara Jack, lelaki itu berbalik begitu saja, menjauh menuruni tribun.

“Jack!” seru Nicholas, tepat saat Jack berjingkat di tangga paling bawah. Lelaki itu menoleh. “Kapan lo perlu bantuan gue, bilang aja. Nomor gue nggak akan ganti. Lagipula lo bisa ngubungin gue di Line, IG, Kakao,Twitter, dan Whatsapp tentunya.” 

Nicholas memang secerewet itu, juga sejujur itu. Dari cara dia menyebutkan semua medsos yang dimilikinya, Nicholas memang seserius itu menunggu Jack menceritakan semuanya. Alasan mengapa dia harus meninggalkan dua amanah sekaligus dalam satu waktu.

Thanks, chill.”

Chill adalah ledekan Jack untuk Nicholas karena Ketua Osisnya itu kerap mengatakan “chill, bro” tiapkali rapat mulai ribut.

***

Yang dia lakukan pertama kali setelah sampai di kamarnya adalah membuka isi hardisk komputer basket untuk memindahkan isi yag rerata adalah foto miliknya. Diprotret langsung oleh calon masternim, Ayunina Pradita. Tangannya mulai menggerakkan tetikus kabel berwarna putih yang dia beli di toko buku. Untungnya tombol scroll di tengah berfungsi dengan baik, membuat Jack cekatan memindahkan satu-persatu folder foto milik, sampai akhirnya gerakan tetikus itu terhenti.

Jack menyipitkan matanya, memastikan folder ini juga miliknya. Tapi seingatnya dia tidak pernah membuat nama folder dengan ‘Kebun Bunga Matahari Yang Cerah’. apa-apaan ini? Siapa yang mengarang nama folder melebihi kenorakannya memberi nama ‘Nina’s Masterpiece’ pada folder fotonya yang diambil oleh Nina?

Penasaran dengan isinya, Jack akhirnya membuka folder yang menyelip diantara Nina’s Masterpiece tersebut.

Jack tertegun. Wajah ini adalah seseorang yang tengah terbaring di Ruang ICU sana. Seseorang yang tengah berjuang atas hidupnya. Tidak hanya satu. Ada ratusan foto setelah Jack mengeceknya. Beberapa foto terlihat wajahnya juga Nina. Tapi secara keseluruhan, folder ini seolah hanya milik Binar dan Candra. Berisi foto-foto mereka berdua dengan senyum yang selalu cerah. Masih belum memahami mengapa Candra menyimpan ini di sini, ia terus menggulir kursornya sampai akhirnya menemukan satu file word di sana.

Kakak. Kamu tahu kan kalau aku adalah kebun, sedangkan kamu adalah bunga mataharinya. Senyummu seperti matahari, tapi kalau benaran matahari rasanya sangat panas. Jadi lebih baik jadi bunganya saja.

Aku sudah tahu, mulai beberapa waktu lalu kalau Binar yang kukenal adalah saudara kembarku. Kakak yang lahir satu jam sebelum aku. Hehe, maaf formal banget padahal biasanya kita tengkar mulu kaya kucing sama serigala.

Bin, ah gue panggil lo Binar aja deh biar nggak canggung. Lo kan emang lebih suka dipanggil Binar tanpa embel-embel apapun.

Maaf ya kalo selama ini gue ninggalin lo. Maaf gue nggak pernah ada di saat-saat loe butuh temen semasa kecil. Maaf kalau akhirnya lo harus berbagi mama sama gue. Maaf kalo gue penyakitan. Tapi, lo nggak perlu ngerawat gue, Bin. Lo harus tetap sehat apapun yang terjadi sama gue. Anggap aja itu bayaran karena gue nggak ada dua tahun lalu waktu lo juga berjuang ngelawan penyakit yang bikin lo nggak bisa kelelahan itu.

Selain itu, gue mohon lo mau maafin kesalahan orang tua kita. Mereka nggak bener-bener siap menikah waktu itu, dan manut sewaktu nenek minta mereka pisah tepat setelah kita berdua lahir. Kedengerannya egois memang, tapi lo harus pertimbangin ini, karena kita juga nggak bisa meminta dari siapa kita harus lahir. Kita nggak bisa milih orang tua. Yang bisa kita lakuin sekarang cuma berusaha untuk nggak ngulangin kesalahan yang udah mereka dan nenek kakek kita lakuin. Kita harus hidup bahagia, Bin.

Bin, gue sengaja nyimpen di sini. Gue nggak tau kapan lo baca ini dan atas alasan apa lo ngebuka folder di komputer ini karena kita sama-sama bukan anak basket. Tapi, menurut gue, dengan disimpennya folder ini di sini, suatu saat nanti seseorang bakal nyampein ke lo. Siapa tau gue nggak sempat minta maaf secara langsung ke lo.

Untuk kakak kembarku, Binar Satrio.

***

 

Nina baru saja sampai di kamar yang sudah dia tinggalkan selama dua tahun, mendadak notifikasi pesan, masuk ke ponselnya. Dari Jack, setelah sekian lama mereka tidak mengobrol di aplikasi chat.

Periksa dokumen sama beberapa foto yang gue kirim.

Mungkin Binar juga harus tau ini. Gue nggak tau ini bisa ngebantu pulihin Binar atau enggak. Tapi, Candra beneran pengen ini sampai ke Binar. Maaf ganggu lo malem-malem.

 

 Fin

09/01/21

Orizuru Ori

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.