Langsung ke konten utama

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

 

Cr. Twitter

Memerdekakan Keinginan

Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’.

Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Mempertanyakan hal semacam itu─kalau semua orang bisa mendengar isi hati saya─kalian mungkin akan bosan. Karena jumlah pertanyaan sejenis lebih banyak, dibanding tenaga yang dikerahkan. Jangankan orang lain, saya sendiri kadang jenuh mendengar pertanyaan itu berputar di kepala saya. kini saya menyadari satu hal; sudahkah saya melakukan sesuatu demi keinginan saya? Mirisnya, jauh di dalam sana menjawab dengan tegas, “Nggak. Kamu bahkan hanya mengeluh tanpa bergerak dari tempat termalas itu.”

Tempat termalas, ya?

“Ih aku pengen jadi penulis lah. Yang bukunya dibaca banyak orang, dicetak sampai beberapa kali, bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.”

Ternyata saya cukup tidak tahu diri untuk meluahkan rasa ingin yang terkesan menggebu-gebu itu. Saya ini bukan siapa-siapa yang  berhak bicara begitu, kecuali berani mendekap seluruh luka ketika tersandung di jalan menuju tempat itu. Tempat asing bagi pemalas seperti saya. Tempat asing yang diinginkan si pemalas ini.

Karena pada kenyataannya ...

Berbaring is my life.

Mager is my hobby.

Hanya bermimpi, tapi tak pernah bangun berniat mewujudkannya.

Ternyata, dari beberapa wacana yang saya baca, tidak ada salahnya.

“Kamu memang perlu bermimpi. Kalau kamu tidak bangun, maka berlanjutlah mimpimu. Tapi kalau kamu bangun, kesempatanmu untuk mewujudkan mimpi tersebut lebih besar.”

Apa yang saya dapatkan ketika saya bermalas-malasan, memilih tidur apalagi sekarang masih musim hujan. Masih musim hujan, loh. Belum lagi turun salju. Mungkin alasan untuk tetap tidur semakin kuat. Hehe. Lantas, mimpiku semakin panjang seiring dengan diri yang terus menerus bergelung di balik selimut hangat untuk melindungi dari hawa dingin. Sampai disitu saja sudah selesai. Hanya mimpi yang didapat.

Padahal, kalau saya bangun, membuka notebook, menulis di salah satu lembar kerja maka setelahnya saya bisa melahirkan karya. Meski pada awalnya, acara kelahiran itu tidak sempurna. Tapi paling tidak, saya sudah memulai langkah pertama untuk menyempurnakan anak-anak saya di kelahiran berikutnya.

Tidak akan ada langkah ke seratus tanpa langkah pertama. Mengerikan sekali kalau orang bisa langsung lompat di tangga ke seratus tanpa melewati tangga ke satu, dua, tiga dan seterusnya. Lu bukan Tuhan. Bahkan Tuhan ngejadiin bumi pakai proses. Nyiptain Adam dan Hawa melalui tahapan. Mantap jiwa ‘kan? Masak mi instan aja kudu rebus airnya dulu. sudah jelas-jelas namanya instan tapi tidak benar-benar instan.

Sejujurnya saya sudah menulis sejak 2013. Orang-orang yang menulis bersamaan dengan saya waktu itu justru sudah menerbitkan beberapa bukunya, malah ada yang sudah difilimkan. Contohnya Luluk HF. Kalau tidak salah ingat, dia mengaku menulis sejak tahun yang sama dengan saya. Yourkidlee, juga. Siapa lagi, ya? Aaa, Bang Boy Candra juga. Lantas kenapa saya masih jadi penulis blog, itupun harus mengikuti challange demi mengasah minat menulis? Ya ... Karena ... Saya ... Pernah berhenti. Sama sekali tidak menghasilkan apapun sampai beberapa tahun. Alhasil, saya lupa bagaimana caranya menulis.

Teknik ala bisa karena biasa itu manjur untuk di segala bidang. Bukan cuma bidang tulisan. Tapi, berlaku untuk Desain Grafis karena saya juga sedang mempelajari bidang tersebut. Jadi, jangan heran kalau di usia kita sekarang, banyak orang yang sudah jauh pencapaiannya di atas kita, pun tidak sedikit yang di bawah kita. Tergantung bagaimana kita; sudah memulainya atau berhenti di tengah jalan? Atau sama sekali belum melakukan apapun.

“Aku pengen kali lah bisa nulis kayak kau.”

Ini nih. Beberapa orang sekitar juga pernah melontarkan kalimat sakti sejenis. Saya cuma bisa mesem. Lantas saya  tepuk bahunya; kalau mahram. Kemudian saya bisikin di telinganya, “Tulislah!” dengan nada agak ngegas tapi bervolume rendah. Membuat yang mendengar juga bergidik ngeri.

Tidak ada cara lain untuk bisa menulis selain menulis itu sendiri. Belum pernah saya baca di manapun, seseorang tiba-tiba bangun dari tidurnya, besoknya menerbitkan novel, langsung best seller pula. Hebatnya lagi, dipajang di Top 10 etalase toko buku. Itu mungkin hanyalah universe yang kamu buat sendiri. Tidak ada di jagat bumi ini.

“Tapi aku males. Tengoklah kepsen igeku. Mana ada. Yang penting aku aplod.”

Jadilah saya gemas sendiri pengen ‘nguleni’ jadi cireng kesukaan ibu saya.

“Ya udahlah. Nasib kau, kau sendiri yang nentuin.”

“Iss jadi kekmana biar aku bisa. Pinomat nules kepsen ige ajala. Biar pede gituloh. Aku kan takot dikomen jelek sama orang. Kan bagus diem daripada bikin kepsen salah-salah. Ya kan? Diem kan emas.”

Nah ini nih. Nemu kan masalahnya. Dan satu masalah lagi, belum tentu diam itu emas. Syukur-syukur emas, tapi kalau ...

Keut. Harus disensor ini.

Balik lagi. Beberapa orang memang bilang, kalau mereka malu menulis bahkan hanya caption Instagram. Malu dan takut membuat kita enggan mencoba. Jadilah kita terpuruk secara menahun oleh rasa malu dan takut itu sendiri. Budaya timur memang identik dengan malu, tapi kalau malu berkarya itu bagaimana? Kalau semua orang timur malu berkarya, sampai sekarang kita hanya akan menikmati karya dari wilayah barat sana. Tapi untungnya, orang-orang timur mulai mencoba. Seng penting karya.

Selamanya kita tidak akan pernah tahu, benarkah orang benar-benar akan menghujat sesederhana caption Instagram buatan kita kalau kolomnya saja tidak pernah terisi? Kita tidak akan pernah tahu bagaimana hasilnya tanpa mencoba. Mari pikirkan ini, tidak semua orang menyukai karya kita; apa yang kita buat. Ketika kita berkarya; berbuat, dari situ kita akan tahu berapa banyak yang suka, berapa banyak yang tidak. Tapi kalau kita tidak melakukan apapun? Sepertinya semua hanya akan menjadi ketakutan dalam imaji kita. Sejak saat itu juga, musnahlah sudah impian yang kita bangun saat tidur.

Sampai di sini, kira-kita akan melakukan apa? Memulai, atau balik bobo cantik? Memenjarakan keinginan atau memerdekakannya? Semoga kita ingat, hidup itu hanya sekali. Tanpa reinkarnasi. Kalaupun ada yang memercayainya, kita tidak akan menjadi orang yang sama dengan kesempatan sama. Ya kalau kamu bereinkarnasi jadi manusia lagi, kalau jadi ayam? Tamatlah sudah, jadi I Am Geprek. Semoga di januari ini, kita mulai memberanikan diri. Selalu bersemangat meski tanpa disemangati gebetan. Karena sekarang motivator udah banyak berkeliaran di media sosial untuk menyemangati kita. Jadi nggak terlalu perlu nunggu gebetan. Ya kalo gebetanmu inget samamu, kalo gasin yang lain? Patah hati lagi deh. Dahlah, yok sama-sama mencoba.

Fin

10/01/21

Orizuru Ori

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.