Langsung ke konten utama

Your Name (Hukuman Kawalan)

Regi dulu pendiem. Disenggol pun gak terpengaruh. Kalau mudiv (musyawarah divisi) sampai jelang magrib, dia izin pulang duluan, takut nggak ada angkot lagi lepas magrib ke kosannya. Kadang kami ledekin. 

Paruh waktu perkuliahan, anggota kontrakan kami berkurang, juga memutuskan cari kontrakan lain di gang sebelah yang rumahnya lebih luas dan cozy (soalnya ada kamar di lantai dua yang bisa ngeliat ke bawah kayak di drama-drama). Kutawarkan slot kosong itu ke teman organisasiku yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua daripada aku itu. 
"Gik. Kau mau ngontrak sama aku? Kami kurang anggota biar murah, dan biar kau ga bingung angkot." 
Karena memang kontrakanku paling mudah akses transportasinya. 

Dia setuju, membayar sejumlah uang sewa yang akan kami sodorkan pada pemilik kontrakan. 

Regi memilih kamar atas. Eh aku lupa, dia yang pilih atau aku yang ngasih. Pokoknya dia sendirian di salah satu kamar lantai atas. Sebelahnya ada dua orang penghuni. Tapi aku sering nginep di kamar dia kalau lagi pengen. 

Dua tahun setelahnya, kami pisah kontrakan dengan orang penghuni kontrakan 13E (nama grup chat kami sesuai dengan nomor rumah). Aku bersama Regi cari kosan lebih kecil yang sudah difasilitasi kamar mandi di dalam kamarnya. Di dalam ruang sempit yang ukurannya tak sampai 3x3 m itu lah aku dan Regi hidup berdua. Ceilah. Kadang kalau lagi gabut, Mira dan Isma ikut nimbrung tidur di sana sambil julid sampai dini hari. 

Persahabatan kami nyaris mulus. Aku yang udah pernah ngerayain lebaran idul adha di rumahnya, juga dia yang pernah liburan semester ke rumahku. Berbagi kisah masing-masing, sesederhana siapa seseorang yang sedang kami kagumi. Kalau berbagi lauk, cemilan, apalagi duit ongkos angkot, itu sudah biasa. Yang penting nggak berbagi gebetan aja. 

Hampir dua tahun juga aku ngekos berdua bareng Regi. Sampai orang-orang di sekretariat heran kalau aku datang sendiri atau Regi datang sendiri. Mereka pikir, Regi sedang ada masalah atau kemana. Padahal sengaja kutinggalin karena dia selesai mandi lebih lama. Tapi itu jarang sih. Kalau lagi ada acara dan memang harus datang cepat kami lebih mengutamakan datang bersama. 

Aku sadar Regi berubah. Entah karena tinggal bareng aku yang agak kacau ini. Dia jadi lebih kritis anaknya, tapi mungkin emang aslinya kritis. Atau karena keseringan julid bareng aku. Tapi kemungkinan paling besar adalah, karena dia belajar banyak dari senior, dari orang-orang sekitar. Juga pengalaman.

Soal berantem, hehe pernah. Ada sih berantem-berantem kecil gegara beda pendapat. Tapi puncaknya lebaran 2018 kalau nggak khilaf. Atau 2019 ya? Lupa deh. Karena kami cukup dekat dengan beberapa adik tingkat yang seorganisasi dan mereka pernah ke rumahku juga bareng Regi. Sebut saja lah namanya Isma, Fatoni, dan Wahyu. Ini emang pernah direncanain, tapi kupikir batal. Mereka pengen ke rumahku lagi lebaran saat itu. Aku selaku tuan rumah setuju tapi nggak ada kabar sampai lebaran tiba. Aku juga nggak nanya mereka karena kebetulan di rumah super sibuk. 

Regi juga nggk bisa dikontak karena memang jaringan di rumah dia suka bikin ngelus dada. Tapi, tiba-tiba, Wahyu ngirim foto kalau dia lagi di pinggir jalan nunggu minibus yang akan membawanya ke rumah Fatoni. Rumah Isma dan Fatoni ini agak dekat ke rumahku. Persinggahan pertama Wahyu di rumah Fatoni. Aku kaget. Aku lantas nge Whatsapp Regi tapi ceklis satu. Seperti kataku tadi, Sobat. 

Singkat cerita Isma, Fatoni, dan Wahyu sampai ke rumahku. Biasalah kalau lagi ngumpul update story. Apalagi malam itu kami manggang ayam. Inilah kenapa kalau bikin story kudu hati-hati. Mungkin Regi ngeliat itu. 

Besoknya kami berkunjung ke rumah Kak Ijur yang nun jauh di sana menggunakan jasa bis yang kondisinya miris. Ini nih, aku salah juga. Jadi aku bikin story lagi soalnya foto-foto di kampung Kak Ijur tuh pada cakep-cakep. Berasa di desa-desa. 

Setelah hari itu, kalau aku ngecek story, Regi nggak pernah ngeseen. Dia juga nggak punya foto profil di whatsappnya. Aku curiga dia ngeblock kontakku. Kayaknya gitu tapi sampai sekarang nggak berani kutanyakan padanya. Bodohnya aku malah sungkan nge whatsapp dia sih. Padahal kalo dichat bakal ketahuan kontakku diblokir atau nggak. 

Ini masalahnya jadi agak lama. Setelah aku balik lagi ke Medan, dia jadi lebih pendiem. Nggak banyak interaksi denganku. Akupun jadi cringe sendiri. Sampe muak pengen pisah kos. Tapi nggak pernah berani ngomong. Paling kalau aku tanya, "Gik kau kenapa nya?" Dia cuma jawab sambil senyum terpaksa, "Nggak papa." Kelean tau kan nggak papanya cewek itu banyak apa-apanya? Walaupun aku cewek juga, tapi nggak tau maksud gapapanya Regi. 

Sekarang masalahnya udah selesai tanpa kami selesaikan dengan berunding. Lambat laun kami lengket lagi tapu nggak lama, karena setelah kami bener-bener baikan, Corona datang melanda umat. Dia duluan balik kampung, begitupun denganku. Udah setahun nggak jumpa. Hew, kangen juga. Kangen diingetin salat kalau aku lagi maruk hapean. Kangen diajakin ngaji ke rumah mualim kalau hari ahad. Banyak juga yang dikangenin, apalagi masakan dia yang rasanya dominan pedas. Bikin asam lambungku kambuh. 

Sekian terima Jay. Sebenernya aku pengen nyeritain beberapa sahabat lainnya tapi belum sempat di work ini. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.