Langsung ke konten utama

Tugas Sekolah (Hukuman Kawalan)

Untuk yang hari ini masih sekolah daring, kalian pasti lebih pusing mikirin tugas ketimbang nahan perasaan was-was sewaktu jadwal guru killer masuk kelas. 

Parahnya lagi, kita nggak paham isi tugas tersebut. Karena jadwal temu terbatas ruang, disekat sinyal, belum lagi keberlangsungan kelas yang kadang tidak sesuai dengan jadwal tidur. Alhasil kamera dimatikan, sang guru kecarian. Izinnya ke toilet, padahal mau molor sambil dengan earphone tertancap pada dua lubang telinga; atau kalau sedang sial karena rusak sebelah, maka hanya sebelahnya saja yang digunakan.

Dibanding sekarang, sekolah  tatap muka jaman dulu lebih membutuhkan effort. Ini pendapat pribadi ya. Karena, tugasnya banyak, sekolahnya sampai tengah hari lebih dikit. Belum lagi aku yang kurang kerjaan selalu nangkring di ICT Sekolah sebelum pulang ke rumah. Yah, bukan karena nggak ada yang dikerjain. Hanya, mencoba menambah ilmu dan jam praktek untuk mata pelajaran produktif karena anak SMK memang jam teorinya lebih sedikit. Kadang kalau sedang apes, diminta bantuin petugas ICT buat masang CCTV kelas. 

Nggak cuma sampai situ. Karena jarak rumah ke sekolah butuh waktu tempuh satu jam menggunakan bus. Aku lebih sering pulang jelang magrib. Sampai rumah, mandi, shalat, makan malam, ngobrol bentar sama ibu, lanjut nonton series india kesayangan ibu. 

Lepas isya, bukannya langsung nugas, justru lanjut nonton series atau acara dangdut. Barulah ketika jarum pendek jam dinding menunjuk angka sepuluh, aku kalang kabut masuk kamar dan mengeluarkan buku-buku yang membebani pundakku seharian dari dalam ransel hitam besarku. 

Mula-mula masih aman. Ditemani musik acak dari pemutar mp3 yang kubeli seharga tiga puluh ribu beserta earphonennya, aku bersenandung kecil sambil menulis tugas yang kadang memang tidak terlalu kupikirkan benar atau tidaknya. Masih syukur aku bisa mengerjakan tugas. Apalagi menumpuk sampai tiap mata pelajaran. Juga, kalau aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh takut salah, yang ada besok hari menjadi keberuntungan bagi orang-orang yang gemar memaksaku minta contekan. Ngomong-ngomong aku ini agak malas berdebat soal untuk memberi contekan atau tidak. Jadi kuberikan saja. Paling-paling aku tetap masuk peringkat lima besar.


Sudah setengah dua belas. Belum juga selesai. Aku jadi teringat kopi sachet yang kubeli di toko sebelah sekolah. Kopi sachet adalah jalan ninjaku menahan kantuk. Meski esok hari membuatku tertidur di bus saat berangkat sekolah. Itu juga kalau sedang beruntung bus lengang. Kalau sesak, ya aku cuma bisa berharap kakak kelas yang sedang dekat denganku saat itu, merelakan kursinya agar aku bisa duduk tanpa bergelantungan di gang antar tempat duduk.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.