Seseorang salah memakai sandalku sewaktu pulang Salat Idul Fitri. Dia kira itu miliknya karena, sandal karet yang modelnya meniru brikenstock itu sama persis, kecuali bagian gesper yang sudah rusak sementara punyaku masih baru. Baru sebulan dipakai sebelum lebaran.
Masih suasana lebaran, hari ketiga. Sandal kesukaanku ini dibawa salat oleh adik laki-lakiku ke Masjid. (Sudah kujadikan kesayangan karena aku harus merelakan milikku yang sudah jadi punya orang lain.)
Pulangnya, hingga esok pagi, tidak ada yang sadar kalau sandal ini tertukar lagi. Warnanya sama, tapi dengan mode yang sedikit berbeda. Aku misuh-misuh karena sudah dua kali tertukar. Dan mencoba menghibur diri dengan mengatakan, kalau yang ini lebih nyaman dipakai. Mencoba menyukainya lagi.
Syawal masih berlanjut, tapi ayahku kelelahan minta dipanggilkan tukang pijat.
Datanglah tukang pijat tersebut, memijat tangan ayahku yang dominan sakit. Ia terlalu asyik memijat sambil makan rempeyek kacang buatan ibuku. Aku tidur lebih cepat karena esok hari akan lebih sibuk.
Kusapu rumah bagian depan dan mendapati sandalku sudah berubah warna, juga ukuran yang satu nomor lebih kecil. Tentu tidak akan muat di telapak kaki panjangku, selain warnanya yang tidak kusukai.
Seperti biasa kalau barangku ditukar orang lain, aku misuh-misuh sampai akhirnya ayahku bilang kalau salat subuh di Masjid, bakal dia tukar kembali karena tukang pijatnya adalah bilal kawakan masjid dekat rumahku.
Dan akhirnya.
Kembali padaku.
Inilah yang semoga akhirnya menjadi milikku sampai ia selesai dengan tugasnya; membawa kakiku melangkah. Paling sering beli ikan di kedai untuk makan kucing-kucingku.
Selagi merenungi sandalku yang bertukar empu beberapa kali, aku jadi teringat dimana aku mengharap seseorang. Ketika aku menginginkan sebuah benda. Saat aku meminta suatu kedudukan. Kontras dengan sandal yang bisa tertukar kapan saja, karena meski sudah jelas milik kita, orang sering keliru bahwa sesuatu itu miliknya. Sedangkan Allah, dalam menempatkan Takdir hamba-Nya, tak pernah salah, keliru, apalagi khilaf.
Komentar
Posting Komentar