Langsung ke konten utama

Sandal dan Takdir (Kutipan Kawalan)

Seseorang salah memakai sandalku sewaktu pulang  Salat Idul Fitri. Dia kira itu miliknya karena, sandal karet yang modelnya meniru brikenstock itu sama persis, kecuali bagian gesper yang sudah rusak sementara punyaku masih baru. Baru sebulan dipakai sebelum lebaran. 

Masih suasana lebaran, hari ketiga. Sandal kesukaanku ini dibawa salat oleh adik laki-lakiku ke Masjid. (Sudah kujadikan kesayangan karena aku harus merelakan milikku yang sudah jadi punya orang lain.)

Pulangnya, hingga esok pagi, tidak ada yang sadar kalau sandal ini tertukar lagi. Warnanya sama, tapi dengan mode yang sedikit berbeda. Aku misuh-misuh karena sudah dua kali tertukar. Dan mencoba menghibur diri dengan mengatakan, kalau yang ini lebih nyaman dipakai. Mencoba menyukainya lagi.

Syawal masih berlanjut, tapi ayahku kelelahan minta dipanggilkan tukang pijat. 
Datanglah tukang pijat tersebut, memijat tangan ayahku yang dominan sakit. Ia terlalu asyik memijat sambil makan rempeyek kacang buatan ibuku. Aku tidur lebih cepat karena esok hari akan lebih sibuk. 

Kusapu rumah bagian depan dan mendapati sandalku sudah berubah warna, juga ukuran yang satu nomor lebih kecil. Tentu tidak akan muat di telapak kaki panjangku, selain warnanya yang tidak kusukai. 

Seperti biasa kalau barangku ditukar orang lain, aku misuh-misuh sampai akhirnya ayahku bilang kalau salat subuh di Masjid, bakal dia tukar kembali karena tukang pijatnya adalah bilal kawakan masjid dekat rumahku. 

Dan akhirnya.
Kembali padaku.
Inilah yang semoga akhirnya menjadi milikku sampai ia selesai dengan tugasnya; membawa kakiku melangkah. Paling sering beli ikan di kedai untuk makan kucing-kucingku.

Selagi merenungi sandalku yang bertukar empu beberapa kali, aku jadi teringat dimana aku mengharap seseorang. Ketika aku menginginkan sebuah benda. Saat aku meminta suatu kedudukan. Kontras dengan sandal yang bisa tertukar kapan saja, karena meski sudah jelas milik kita, orang sering keliru bahwa sesuatu itu miliknya. Sedangkan Allah, dalam menempatkan Takdir hamba-Nya, tak pernah salah, keliru, apalagi khilaf. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.