Langsung ke konten utama

Menyerah, Kasur Sialan, Bangkit, dan Hal Baik (Hukuman Kawalan)

Kalau dilihat dari jadwal dan tidak salah ingat, ini adalah hari terakhir hukuman kawalan. Hari terakhir nulis disediain tema yang detail dari Isma; panitia. Saya nggak tau nyebutinnya apa, kira-kira begitu. 

Sambil mengingat kembali harapan yang saya bayangkan semasa sekolah, juga terbesit tanya bagaimana jika sudah tidak ada tantangan menyebalkan ini? Akankah laman ini tetap ditulis olehku yang sejak dulu mendamba buku solo buah pikiranku sendiri? Atau hanya akan tersisa kenangan untuk masa depan; bahwa tulisanku seberantakan ini di masa lalu?

Dipikir-pikir, sudah sejak SMP saya menulis. Memulai dengan menulis fanfiction berbentuk cerbung di catatan Facebook. Berhubung dulu akses internet tidak semudah sekarang, di hari biasa kutulis cerita-cerita konyol itu di buku tulis. Menghabiskan selusin buku yang sampai sekarang masih ada. (Seingatku beberapa bulan lalu sudah kuloakkan karena ingin membersihkan perpustakaan kamar juga takut kalau ibuku membaca tulisan alay anak SMP yang sedang dimabuk cinta karena idolnya. Tapi entah jadi kuloakkan bersama kertas-kertas lain, atau masih tertinggal di dalam lemari.  Saya benar-benar lupa.)

Beberapa penulis terkenal sudah memulai karirnya bersamaan dengan saya. Tapi mereka sudah punya puluhan buku, saya tidak. Inkonsistensi membuat tulisan saya terkubur begitu saja, tidak tumbuh apalagi berkembang. Tulisan saya mentok disitu-situ saja, mulai dari diksi, tata bahasa, apalagi konflik cerita. Kadang saya ingin menyerah dengan mimpi yang saya tekadkan semasa SMK ini. Saya pikir, saya tidak punya bakat di bidang ini. Hiatus? Pernah. Hiatus panjang karena saya sibuk di pers mahasiswa. Menulis pun isinya berita. Kadang saja saya tulis cerpen kalau sedang malas liputan. Itupun sebulan sekali. Barangkali hiatus ini yang membuat saya terhenti. Apalagi saya jadi sibuk sekali belajar desain. Sibuk menyelesaikan kuliah. Sibuk fangirling. Sibuk mengurus rumah selama pandemi yang tidak mungkin saya bilang sialan. Saya sibuk sekali sampai semua tidak selesai tepat waktu. Apakah ini konsekuensi dari banyaknya panel yang saya buka untuk mengisi hari? Saya tidak tahu. 

Proses yang ribet itu tak juga menghentikan mimpi saya. Allah beri penerangan sewaktu saya direkrut sebagai layouter buku di salah satu penerbit daerah Jawa Barat. Secara otomatis, sewaktu saya ngelayout, tentu membaca tulisan para penulis yang punya jam terbang lebih banyak juga sirkel pertemanan yang minatnya sama. Keadaan itu membuat saya menulis lagi. Karena tidak percaya diri, maka saya tulis di platform menulis dengan nama pengguna yang sama sekali tidak ada unsur nama saya. Penyakit tidak pede ini masih berlanjut sampai sekarang. Saya merasa konflik cerita saya kacau, masih seperti dulu. Begitupun dengan tekniknya. Kadang otak saya sudah memutar reel film yang memvisualisasikan cerita buatan saya, namun pada akhirnya, tulisan itu tidak selesai. Saya berhenti lama di tengah jalan. Harusnya tidak ada alasan menundanya. 

Untuk kesekian kalinya saya ingin menyerah. Tapi untuk kesekian kalinya saya ingin mewujudkannya kembali. Entah sampai kapan siklus ini berlangsung. Akankah ini tetap menjadi keinginan saya di masa depan? 

Sembari membayangkan harapan untuk masa depan saya yang warnanya abu-abu, yang warnanya tidak jelas entah terang atau gelap ini. Satu kalimat dari seseorang yang bagi saya tampak nyata tapi tak mampu saya lihat secara langsung bahkan meski ujung hidungnya; dia bilang untuk bekerja keras setiap hari. Persis seperti dirinya yang tidak kenal lelah. Bangkit lagi meski harus terseok, berlatih lagi meski tubuhnya sakit. Semua yang ia lakukan demi harapan masa depannya. Kalimat itu menjadi obat bagi saya. Mulai kini, untuk melakukan hal baik setiap hari. Paling tidak, hal baik itu menjadi teman saya ketika usia saya sudah senja. Kebermanfaatan yang ingin saya bangun harusnya memang saya wujudkan sendiri. 

Kawan, Sob, Fren, Gaes. Mari wujudkan mimpi. Bangun dari kasur sialan yang membuatmu nyaman bergelung di sana. Tidak masalah ini masih pandemi. Yang penting bangun dari sana, lakukan yang ingin kau wujudkan. 

Komentar

  1. Mbak, kalau ada lowongan editor, "Please, call me!" Wkwkwk. Semangat punya buku sendiri, Mbak. 💫

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Pasti dikabarin.

      Yok punya buku sendiri. Wkeke

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.