Langsung ke konten utama

Mengulang Kenangan (Hukuman Kawalan)

Waktu SMP, kami hanya sesekali bertegur sapa. Alasan utamanya karena beda kelas dan aku yang terlalu malas ber-hai-hai dengan orang lain. 

Agak kaget, kukira hanya aku seorang dari SMP kami yang mendaftar dan lulus di SMK tersebut. SMK 1. Ternyata, di hari pengumuman, Eka menghubungiku. Eh aku lupa siapa duluan di antara kami yang menghubungi. Pokoknya, isi percakapannya "iya, aku juga lulus. TKJ kan?" 
Begitulah menjadi panjang ceritanya. Dia nggak sendiri, bareng temennya yang dulu sekelas waktu SMP (eh iya nggak ya? Kayaknya aku harus minta klarifikasi Dea). 

Lepas MOS (Ospek), aku minta Eka jadi teman sebangku, karena aku nggak mengenal siapapun di sini kecuali dirinya dan Dea. (Pengen nyeritain Dea juga tapi ini nggak akan cukup satu chapter). Dea setuju sewaktu kuminta Eka jadi teman sebangkuku. Padahal awalnya mereka yang ingin sebangku. 

Dari situ semua berawal. Mulai dari Eka yang suka dengan seseorang di kelas kami, sedang laki-laki itu punya teman yang notabennya cowok taksiranku. Hehe, mohon maklum soalnya semasa SMP aku cuma tau fangirlingan. Nggak pernah ngelirik cowok seserius ini. 

Keakraban kami berlanjut sampai akhirnya dia menjabat sebagai sekretaris kelas dan aku wakilnya. Eka yang tiap minggu mengunjungi rumahku bersama Dea. Setelah itu kami bonceng tiga ke rumah Dewi (teman sebangku Dea). Kalau sedang punya duit, makan baso hits di dekat rumahku. Kalau sedang gabut, foto-foto di ilalang atau ladang ubi dekat rumahku juga. 

Pernah juga, kami harus bolak-balik BP sebagai perangkat kelas. Mengurus teman a.k.a mas crushnya Eka yang doyan cabut kelas. Kalau ini sih, sampai wali kelas kami yang notabennya suka nongki di BK jadi curiga dan akhirnya tau hubungan mereka. Kalau ingat itu aku cuma bisa senyum. Nggak akan mungkin tau rasanya masuk BK kalau bukan karena mas crushnya Eka dan orang yang saya taksir bermasalah. 

Kejadian ini nggak mungkin berlanjut terus sampai akhirnya kami berhenti mengurus hal semacam itu. Pilih belajar merakit PC di ICT Centre sekolah bareng pegawai di sana. Kadang kalau sedang nggak pengen sibuk, ya download film secara bebas di ruang ICT bareng Eka, Dea, dan kadang Dewi ikut. Pulang sore menjelang magrib bukan lagi hal yang mengejutkan. Kalau dipikir-pikir, sejak SMK ternyata aku doyan pulang telat ya. 

Sampai akhirnya, kami harus memulai cerita baru. Kelulusan di depan mata. Masing-masing dari kami memilih jalan berbeda termasuk aku, Eka, Dea, dan Dewi. Dea ingin mulai bekerja kata, Dewi pun begitu, malah merantau ke ibukota negara. Tinggallah aku dan Eka yang iseng daftar SPAN PTKIN padahal udah daftar SNMPTN. 

Qadarullah. Kami sama-sama nggak lulus SNMPTN, malas ikutan SBMPTN alhasil menerima kelulusan SPAN PTKIN di Universitas yang sama. UINSU tercinta. 

Kali ini, hidup baru kami dimulai berdua. Bersama sepupuku dan temannya, kami mengontrak salah satu rumah di Medan. Tentu aku dan Eka sekamar. 

Makin tinggal bersama, aku semakin mengenalnya. Kurang dan lebihnya. Tidak akan kutulis kurangnya di sini karena biar kami saja yang tahu. Tapi, Eka tetaplah gadis cantik yang dulunya bintang kelas. Dengan sikap humble pada siapapun, kontras denganku yang kata orang kalau baru pertama ketemu langsung ngejudge; ini anak sombong sekali, apalagi sorot tajamnya itu. Mungkin dari dua karakter berbeda ini yang membuat kami sempat tinggal bersama selama tiga tahun, meski akhirnya harus berpisah karena beberapa alasan. 

Walau sudah pisah rumah, yaiyalah Eka juga mau bangun rumah tangga. Apalagi aku udah balik kampung. Tapi kami tetap saling mengunjungi. 

Kalau tentang rindu, sudah tentu. Ada banyak hal yang bahkan aku selalu, mengapa tidak kami lakukan saat tinggal bersama di perantauan. Tapi paling kurindukan ya bobroknya dia. Emang cantik, tapi bobrok. Makanya aku nggak sungkan temenan sama dia walau visualnya sekarang makin nggak main-main.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.