Langsung ke konten utama

Kak... (Hukuman Kawalan)

Hnggg, harus dimulai dari mana kira-kira? 
Mau disclaimer karena ini cuma nyeritain ulang. Nggak ada niat untuk kembali, ceilah.

Kalau ini, tetap saja nggak pakai nama asli. Aku menyebutnya Yudistira. Panggilannya Yudis. Dia kakak kelasku, jurusan pemasaran. Sudah kelas 3 waktu aku masuk SMK. 

Kenapa ya? 
Ya alasannya aku ngefans duluan, hehe. 
Kapan tepatnya, aku lupa. Tapi aku terkesima waktu ketemu dia di bus selepas pembekalan untuk MOS esok hari. Entahlah, pulang dari situ aku keinget mukanya. Tapi nggak tau namanya, padahal dia pake kemeja sekolah yang ada tanda pengenalnya. Dia anak OSIS sekaligus panitia MOS. 

Tapi potek di hari ketiga MOS gegara beliau gandeng perempuan ke kelas kami yang notabennya adalah pacarnya. 

Elah berasa baca wattpad. 
Aku nggak tau alasan mereka putus dan nggak nanya. Walau kami cukup dekat setelah sekolah dimulai, mana mungkin kutanya hal semacam itu sampai akhirnya aku ketikung temen yang biasanya juga se bis dengan kami pergi maupun pulang sekolah.

Ngomong-ngomong kami naik bis karena jarak dari rumah ke sekolah nyaris sejam. Nggak ada angkot di sini. 

Mereka juga nggak lama karena insiden selingkuh pacarnya. Paling menyebalkan itu karena aku dituduh nikung pacar si mbak ini padahal dia yang selingkuh ke cowok di kelas yang kutaksir. Aduh mumet, muter-muter. Aku tau mereka selingkuh, tapi untuk apa juga kulaporin ke Yudis. 

Asal tau aja ya, walaupun naksir untuk apa kuracuni dia buat ninggalin pacarnya, supaya datang padaku. 

Meski akhirnya Kak Yudis menjadi seseorangku. Dia satu-satunya mantan yang ibuku tau kalau seseorang bernama Yudis pernah jadian sama anaknya. Bahkan kadang nanya, "Yudis apa kabar? Pernah ketemu Yudis di Medan? Yudis udah nikah?"  

Nggak ada maksud apapun di dalam pertanyaan ibuku, tentu saja. Beliau cuma penasaran siapa yang sedang bersama anaknya sekarang. Padahal nggak ada. Sudah memutuskan untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Sudah terputus hanya sampai di SMK saja  nyerempet dikit ke kuliah. 

Kami putus baik-baik, meski waktu itu karena alasan yang kekanakan. Aku nggak bisa LDR karena waktu itu selesai sekolah, beliau kuliah duluan di Medan. Suka overthinking kalau dia di Medan gandeng cewek lain.

Hahahahahahahah. Aduh ngakak sial. Aku suka malu kalo nyeritain soal ini. Soalnya emang, "Ya Allah lebay kali aku dulu. Cemburu sama pacar yang nggak ada surat sah dari negara apalagi agama." 

Kalau sekarang ya masih baik-baik. Kalau aku ulang tahun, beliau ngucapin. Tapi kalau dia ulang tahun, aku nggak ngucapin. Ya takutlah tiba-tiba dilabrak pacarnya. Semoga orangnya nggak baca, tapi kalau baca, makasih sudah mengisi lembar buku berjudul SMK. Mengajari sedikit banyaknya cara bersikap. Mengajari betapa tidak ada yang benar-benar milikku di dunia ini. Semoga segera menghalalkan kakak itu, menjadi orang tua yang baik dan amanah.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.