Sebagai seorang manusia, siapapun pernah bersalah. Sengaja atau tidak, menyesal atau justru menjadi-jadi. Pilihan itu ada pada kita, si penerima konsekuensi. Si angkuh yang sering meng-aku-kan diri, seolah semua bergerak sesuai kehendaknya. Padahal, kalau bukan karena kuasa Sang Pencipta, kita ini hanya tulang yang dibalut daging.
Tapi bukankah, seburuknya manusia, ialah yang bangga pada kesalahannya; dosanya? Maka, sebagai pendosa yang sering bersalah, aku tidak akan spill banyak-banyak. Tentang kesalahan yang seharusnya menjadi aib; juga rahasia yang sedang Allah tutup untuk diriku yang sekarang.
"Siapa suruh kalian beli makan di luar?! Di dalam ada kantin!"
Murka yang sudah kami hafal rautnya itu, membawa tangannya untuk berkacak pada pinggang di balik pintu besi yang sudah ditutup meski sekolah belum usai.
Aku, dan dua orang teman yang masing-masing memegang plastik buram terpaku untuk beberapa saat. Detik berikutnya saling tatap dengan air muka yang tidak terdefenisi. Aku yang merasa oknum paling bersalah di sini, membuka mulut, hendak bersuara.
"Itu pak-"
"Kalian nggak tahu ini sedang ujian?! Kalian sudah semester akhir, dan bentar lagi angkat kaki dari sini, tapi bikin masalah?!"
Suaraku tertelan angin. Tidak bersisa saat kalimat lain memotongnya. Aku hanya bisa menelan saliva secara kasar sambil dalam hati meng-iyakan omelannya.
"Pak. Maaf, Pak. Kami kelaparan. Di kantin nggak ada roti bakar, tapi kami pengen."
Akhirnya kalimatku tidak dipotong lagi. Bapak gendut yang celana bawahnya kedodoran itu mendekat, menggunakan jingkatan kakinya yang agak cacat sebelah. Sepatu pantofelnya yang kebesaran mencipta ketukan di lantai usang, memecah sunyi karena ujian sudah dimulai.
Sudah dimulai, jadi sepenuhnya itu salahku kalau gerbang lobi keburu ditutup.
Aku mau mati saja di detik itu. Sudah panik duluan karena tatapannya tampak ingin mencecarku habis-habisan. Tentu aku merasa dia akan menelanku hidup-hidup karena memang aku lah yang punya ide beli roti bakar milik koko-koko paruh baya yang rukonya menempel pada pagar sekolah.
"Kalian anak TKJ?"
tanyanya dengan suara menggema di lobi. Beberapa guru yang berjaga di meja piket memilih bungkam tak ingin ikut campur. Takut terancam juga karena Kepala Sekolah sedang marah.
Ya, bapak gendut di hadapan kami adalah kepala sekolah yang tiap hari mengomel kalau sampah-sampag berserakan di depan kelas.
"I-iya pak," jawab kami kompak.
"Bagus!"
Sarkasme yang dilontarnya benar membuatku overthinking. Apa mungkin sekolahku hari ini akan berakhir, hanya gara-gara roti bakar?
Membayangkannya saja sudah lebih menakutkan daripada nonton Jigsaw.
"Memang anak TKJ ini suka kali bikin masalah, Pak." Bu guru yang jabatannya di sekolah sebagai bendahara, baru datang dan mengompori pak kepsek. Aku jadi ingat sewaktu beliau mengomeli saku rokku yang diberi sedikit hiasan karena ibuku adalah penjahit.
"Kau, Tara kan? Yang dekat sama Jeck?"
Jeck itu pegawai ICT sekaligus mentorku untuk persoalan rakit PC. Beberapa waktu lalu, dia sempat melarikan diri dengan membawa perangkat-perangkat komputer sekolah dan tidak bisa dihubungi. Sialnya, aku yang kena imbas, berakhir diamuk Pak Kepsek karena tidak juga bisa membawanya kembali.
"Dulu muridnya pak. Sekarang ce'es Pak Joni dia, Pak." Partiah, dengan beraninya menyahuti Pak Kepsek padahal dia juga belum lolos dari hukuman.
Sudah hampir sepuluh menit waktu berlalu tanpa negosiasi. Aku masih takut bicara lagi, tapi waktu untuk mengerjakan soal terus berjalan. Bagaimana kalau aku benar-benar digagalkan dalam ujian akhir menjelang UN?
"Pak. Saya minta maaf." Aku menunduk pasrah. Antara takut dan khawatir. Kepalaku menengadah lagi. "Saya janji, Pak. Tidak akan mengulangi lagi."
"Kamu sudah dengar kan? Waktu saya umumkan tidak boleh beli makanan di luar pagar sekolah? Kalian harus beli apapun di kantin, dan membeli peralatan sekolah di koperasi."
Aku mengangguk seolah paham. "Iya pak. Saya minta maaf pak. Saya janji tidak mengulangi lagi."
"Ya sudah saya maafkan."
Pak Kepsek yang dulunya guru olahraga ibuku ini, berbalik arah. Bergerak menjauh dari pintu besi yang belum dibuka.
"Pak! Saya mau ujian, Pak."
"Nggak perlu!"
"Allahu Akbar!" Aku terkaget dalam hati. Semakin ingin menangis, bagaimana kalau beliau serius?
"Pak. Mohon jangan begitu, Pak. Tinggal sebentar lagi kok pak saya di sini."
Aku memberanikan diri, memohon, meski nada bicaraku tidak terdengar melemah.
Ia berbalik menengok kami lagi. Menghela napasnya yang berat karena sepertinya sudah seharian keliling.
"Pak Anwar. Buka pintunya."
Pak Anwar sebagai salah satu guru olahraga di sekolah, menggunakan lengan kekarnya untum menarik pintu besi besar di lobi sekolah.
Aku menunduk beberapa kali di hadapan Pak Kepsek. "Makasih pak. Saya janji nggak akan mengulanginya lagi."
"Saya tandai kamu, ya!"
Setelah melewati roller coaster tadi, aku akhirnya bernapas lega tanpa melepas plastik berisi roti bakar rasa bluberi dan cokelat. Kebetulan pengawasnya adalah mantan wali kelasku, aku lantas permisi untuk diizinkan masuk.
"Ditahan Pak Kepsek ya, di lobi"
Kami mengangguk.
"Makanya jangan bandel. Tara lagi ini. Buruan masuk siapin ujiannya. Waktu kalian nggak banyak."
Aku melangkah buru-buru ke arah mejaku. Melewati meja Felix yang sedang serius mengerjakan ujiannya.
"Buruan kerjain. Nanti kubantu," gumamnya, tepat saat aku mendudukkan bokong.
"Kenapa?
Komentar
Posting Komentar