Aku nggak tau dia mengingat ini atau enggak. Semoga sudah nggak ingat, karena sudah seharusnya dia lupakan ini. Namanya Felix; karakter yang aku ciptain di salah satu cerita di platform menulis. Aslinya orangnya ada, tapi Felix tentu bukan nama asli. Nggak banyak yang bisa kuingat untuk urusan contek-mencontek sewaktu ujian. Kalau hari biasa, sudah jelas si pemalas-pemalas kelas mengerumuni kami; beberapa pentolan kelas untuk urusan akademik, memelas minta diberi contekan. Tapi kalau sedang ujian, semuanya serba dibatasi. Lagipula, siapa yang mau, susah-capek-ngantuk yang kita relakan untuk belajar, menjadi batu loncatan bagi para pemalas.
Siapa yang mau? Coba jawab?
Kalau untuk ujian, mohon maaf lahir batin, aku agak selektif. Kecuali mereka yang bisa diajak tukeran. Ehe.
Salah satunya si oknum Felix yang membuat perjanjian denganku sebelum hari ujian. Waktu itu dia manggil aku "Cha Eun Sang", jijik nggak? Jijiklah, masa enggak?! (Sialan pake nada tiktok)
Itu karena mergokin aku nonton Drama Korea The Heirs, si pemeran utama wanitanya bernama Cha Eun Sang yang diperankan oleh Park Shin Hye.
" Cha Eun Sang!" serunya tiba-tiba, menghampiri mejaku yang terletak di dekat pintu masuk kelas.
Aku yang waktu itu sedang sibuk scrolling, kontan mendongak dengan tatapan nanar. Agak kesal karena Felix menganggu waktu santaiku. (Heh tadi katanya sibuk).
"Ha! Apa?" sahutku dengan nada khas yang kalau orang sudah mengenalku pasti tahu bagaimana wajahku waktu melontar kata-katanya.
"Tukeran besok," katanya lagi, tak jelas mengarah kemana. Bodohnya sewaktu dia memanggilku Cha Eun Sang, aku menanggapi. Baru sadar.
"Apanya, elah!"
"Pokoknya yang pake hitungan, biar Bang Felix yang kerjain. Cha Eun Sang kerjain yang sisanya. Tapi sebisa mungkin kita saling usaha ngerjain. Jadi jawaban kita nggak serupa mutlak. Kalau mata pelajaran produktif, kita bagi dua." Ia menunjuk diri, menyatakan 'abang' padahal jelas-jelas kami sekelas. Felix emang ngeselin di akhir sekolah; waktu itu kelas tiga. Dia yang pendiam sejak masuk sekolah, jadi cerewet dan tukang ganggu.
Ganggu banget. Ganggu perasaan.
"Janji kau?" tanyaku, menodongkan telunjuk ke arah wajahnya dengan wajah mengintimidasi.
"Janji." Sahutannya diikuti jari kelingking yang terulur di depan wajahku. Tak kusambut, malas.
"Yaudah. Tapi aku nggak janji nih jawabannya bener."
"Nggak masalah. Tapi dikit-dikit bantuin ngitung."
"Bisa. Kasih petunjuk aja. Tapi, Lix emangnya bangku kita sebelahan?"
"Biasanya kalau nggak sebelahan, depan-belakang. Gak pernah kepisah jauh."
"Oke. Bagus. Dahlah, ngapain kau masih berdiri di situ? Simpan itu kelingkingmu."
"Nggak mau nyambut?"
"Nggak! Cabut sana!"
Ia manut, beranjak dari hadapanku. Bergumul kembali dengan satu teman dekatnya di baris tengah kursi kelas.
***
Senin menjadi pembuka ujian semester. IPS dan PPKN menjadi amplop pertama yang dibuka segelnya. Lepas menanggungjawabi lembar soal yang dinyatakan sakral meski kita sama-sama tidak tahu, sudah dicuri atau belum.
Anak laki-laki itu menoleh ke belakang, menungguku melihat padanya. Ia lantas menaikkan sebelah alis dengan smirk tipis di bibirnya.
"Gausah senyum kau. Duduk manis kerjain duluan. Jangan ngarep kali sama aku," kataku memperingatkan. Supaya dia tidak kecewa. Ini hanya contek-mencontek, bukan perjanjian pembelian jawaban ujian yang ditandatangani di atas kertas putih. Jadi, perjanjian yang kita buat kemarin hanya untuk hal mendesak. Kalau masih bisa dijawab sendiri, lebih baik memertahankan milik sendiri. Tidak perlu ragu karena jawaban kami berbeda.
"Ya, ibu negara."
"Bct!" gerutuku tentu dengan volume satu. Bisa digampar kalau pakai volume seperti hari biasa.
Tegang nggak?
Nggakkkk!
Entah karena ini SMK atau seisi kelas memang orangnya pada santuy. Nggak kayak di drakor yang cuma kuis harian aja bisa babak belur rebutan poin. Kami sangat amat santuy, tapi berubah liar kalau sudah menit terakhir. Makanya biasanya kupilih selesai lebih dulu, menghindari diberondongi orang-orang agar diberi contekan.
Masih ada sisa setengah jam. Kuperiksa ulang lembar jawabanku. Beberapa dibubuhi stipo karena salah tulis. Ada yang tintanya memudar karena diserap stipo, jadi butuh usaha untuk lebih menebalkannya lagi.
"Lix! Udah nih!" Suaraku berbisik sambil mencari momen dimana pengawas abai.
Felix menoleh karena pendengarannya tajam.
Ia melirik lembar jawaban yang arahnya sudah kuputar ke depan. Netranya memindai satu persatu kalimat dari tulisanku yang tidak bisa dibilang rapi. Kemudian berbalik arah dan menuliskan deretan tadi, terekam banyak di kepalanya yang tidak begitu besar tapi digunakan dengan baik.
"Udah," bisiknya.
Aku heran. Padahal baru sekali menoleh. Tapi kurasa tak perlu terlalu heran. Dia adalah murid laki-laki terpintar kedua di kelasku. Kemampuan otaknya merekam kalimat jangan diragukan. Lagipula dengan begitu, aku tidak perlu khawatir soal nilai. Sudah pasti akan berbeda karena tidak semua jawaban dia copy paste.
"Duluan kumpulin." Ia berbisik lagi setelah menyadari aku yang tidak kunjung bergerak dari kursi.
Aku lantas tersadar. Mengerti dan pergi ke meja pengawas untuk mengumpulkan lembar jawaban. Kemudian keluar kelas tanpa membawa peralatan ujian, kecuali handphone di saku yang dinonaktifkan. Felix tidak langsung menyusul supaya tidak dicurigai. Ia justru pura-pura memeriksa ulang jawabannya, memasang tampang bingung membuat batinku mengumpat. "Gaya kali sialan!"
***
Nggak ada jumat barokah untuk istilah ujian semester. Entah mengapa pihak sekolah memutuskan ujian Matematika dan Fisika di hari jumat. Harusnya, di akhir pekan begitu, menjadi penutup minggu yang membahagiakan, tapi tidak bagi kami hanya karena jadwal ujian.
"Pulang dari sini, solat jumat minta ampun karena pake kalkulator."
Pagi itu ujian belum dimulai. Masih segelintir orang yang datang dengan wajah sama kusutnya denganku. Memikirkan soal yang jawabannya sudah pasti sulit dicari. Santuy sih santuy tapi kalo ketemu Matematika, Fisika, Kimia, rasanya kayak mau kiamat. Memang trio itu bikin orang sakaratul maut mendadak. Apalagi untuk ukuran anak SMK yang sukanya masuk Lab. Bongkarin PC.
"Nggak perlu pake kalkulator. Santai aja."
Jawaban Felix nyaris bikin emosi kalau aku nggak ingat dia ini partnerku. Emang dia kadang belagu kalo soal ngitung-ngitung. Seolah-olah tangan dia bisa digunain jadi kalkulator sinus, cosinus, kangen.
Sialan, Tangen maksudnya.
Gajadi ngejokes lah.
"Betul kau?!" tanyaku seolah tak percaya.
"Cha Eun Sang santai aja. Kerjain yang bisa, kalau nggak bisa, tungguin Bang Felix siapin jawabannya."
"Nanti kau ngibulin aku nggak? Beda jawaban di kertasmu sama yang kau kasihkan aku?!"
"Enggak suer. Untuk apa ngibul coba?"
"Ya muka kau polos-polos kek kang tipu."
"Tenang aja ya, tenang. Yang penting sabar."
"Udah sabar dari orok!"
"Jangan ngamuk-ngamuk, masih pagi. Atau karena belum minum susu ultra makanya sensi?"
"Bukan gitu. Apes kali rasaku. Udahlah hari ini matematika sama fisika, besok kimia. Pergi sekolah nggak dapat bangku di bus. Emang anak Siti Ba*un itu bikin sempit bus aja!"
"Yaudah bentar ya. Aku ke kantin, cari air putih buat Eun Sang."
Bangsul, jijik kali ingat panggilan ini. Dipikir-pikir napa dia norak untuk ukuran anak kalem yang kemejanya selalu dimasukin, celana nggak pernah kuncup, kaos kaki nggak pernah kena razia, datang tepat waktu, nggak pernah cabut kelas, nggak ngerokok, kesayangan guru, walau kadang kena tegur gegara rambut lifebuoynya yang berkilau padahal panjangnya udah lebih dari ukuran yang udah ditentukan.
Felix, semoga kau nggak baca ini.
Plis jangan.
Tapi ngomong-ngomong, Felix nyesel nggak ya? Soalnya kalau dipikir-pikir, aku jadi pengen memperbaiki persoalan ini.
Di luar urusan dosa, nyontek juga ngebuat aku males usaha. Merembet sampai masa kuliah. Efeknya nggak terlalu keliatan kalau nggak benar-benar kita resapi. Tapi kalian percaya nggak? Karena kebiasaan nyontek, kita jadi males ngusahain urusan yang menurut kita susah. Mengharap orang lain menawarkan tangannya supaya kita dibantu beranjak. Meski sebenarnya kita bisa bangkit sendiri.
Jadi penasaran sama Bang Felixnya Cha Eun Sang. 🤪
BalasHapusJangan penasaran. Orgnya udh mau beranak wkwk.
Hapus