Langsung ke konten utama

Beli Pulsa (Hukuman Kawalan)


Biasanya aku mengisi pulsa untuk provider X karena kebutuhan mendadak saja. Kebetulan waktu itu lagi minim duit tapi paket internet juga kosong. Lengkap sudah derita anak kos satu ini. Satu-satunya jalan, kugunakan hotspot teman sekamar lantas mengirimi chat pada kakak yang biasa jual pulsa. Dua puluh lima ribu. 

Aku ini bukan tipekal yang mudah mengingat. Apalagi nomor satu ini jarang kugunakan. Biasanya pakai provider yang bisa sampai pelosok negeri. Jadilah kucari nomor tersebut  tak kunjung ketemu. Seingatku pernah minta tolong untuk membelikan pulsa kepada sohibmu, Mide. Kuperiksa isi chat kami yang bejibun, telaten sekali untuk menemukan satu balon yang menampilkan nomor ponsel. 

Ketemu. 
Aku lantas meneruskan nomor tersebut ke kakak yang kang isi pulsa tadi. Nge-bon dulu, biasanya gitu. 

Kutunggu udah macem nunggu abang itu. Gak juga nyampe. Tapi kata kakak itu, udah diisi. Aku nggak curiga sama sekali. Aku nyerah karena nggak kunjung terisi juga. Jadilah aku beli paket ke gang sebelah pakai uang sisa-sisa di ransel kuliah. Beli paket buat sehari aja. Besok minta isi lagi. 

Finally. Selesai. 
Mide ngechat grup Masiuke. Heboh lah dia, ada yang ngisikan pulsa dua puluh lima ribu. Eh dua puluh ribu ding. 

"We. Gilak ini ada yang ngisikan pulsaku. 20 ribu lagi." 

Aku ngejawab. "Orang nyasar mungkin, atau tetanggamu yang jual pulsa kemarin salah ngisi mungkin. Besok ko tanyak lah sama dia." 

"Dah kutanya. Katanya gadak dia ngisi pulsa."

"Dahla rezeky kau lah itu." 

"Ih baik kali uwak itu."

Enak kali dia kan. Diisikan pulsa. Padahal aku ngisi pulsa ga nyampe-nyampe. 

Besoknya. Paketku habis. 
Aku minta ke kakak itu ngisiin lagi ke nomor sama. 
Gak nyampe juga ini. 

Setelah itu, Mide ngechat grup lagi. 
Isinya sama. Dia diisikan pulsa lagi. 
Aku yang masih nunggu ini pasrah, akhirnya nelpon ke kampung minta isikan paket. Minta paket sebulan. 

Besoknya entah kenapa tiba-tiba aku bisa nanya ke Mide. Nomor hape kartunya berapa. Nomor hape yang dipake khusus internet. 
Dan tanganku gerak ke roomchat kakak pulsa. 


Aku terdiam. Terus ketawa sendiri. 
Abis itu kuchat si Mide. Kayaknya isinya begini.

"Mid. Ternyata itu aku yang ngisi pulsamu. Aku salah ngasih nomor ke kang pulsa." 

"PAOK... PAOK. AKU KETAWA INI GAK BERHENTI. NGAKAK KENCANG." 

"AKUPUN NGAKAK SAMPE HAMPIR NANGIS."

"KOK BISAAAAA?"

"KHILAF. DAHLA." 

"ISH SUMPAH LAH GAK NGERTI LAGI NENGOK KAU." 

"YA KEKMANA AKUPUN GAK NGERTI." 

"DAHLA BESOK KUBAYAR." 

"DAHLA GAUSAH. KAN AKU YANG SALAH NGISI. PADAHAL NOMORKU XL PUNYAMU IM3."

"APA GAK KAU PERIKSA?"

"ENGGAK. POKOKNYA ADA NOMOR DI CHAT KITA. ITU KUTERUSKAN KE KAKAK ITU." 

"RUPANYA KAU ORANG BAIK YANG SEDEKAH."


"MIRISNYA AKU NGGAK NIAT SEDEKAH AWALNYA." 


Sampai sekarang kalau ingat itu, aku senyum sendiri. Kenapa aku bisa bodoh berkali-kali? Nggak cuma urusan hati, urusan pulsa pun begitu? 

Gegara itu aku tobat. Gak mau pasang dua kartu di ponsel walau slotnya ada dua. Biar aja satu doang, pakai nomor yang udah nempel di otakku. Bahkan di otak kang pulsa yang biasa ngisiin pulsaku. Saking seringnya isi pulsa.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.