Langsung ke konten utama

Yang Ada Hanyalah Ngabubuwrite-1


Tahun ini, tahun kedua ramadan di rumah. Sahur tidak khawatir telat, buka puasa tidak takut tanpa es teh manis. Walau sebenarnya aku bukan tim es kalau puasa, amandel ini nggak bisa diajak kompromi. Tapi, tidak ada ngabuburit karena aku di komplek hanyalah jomlo seorang diri. Maksudnya, temen-temen di kampung udah pada niqa. Jadi ngabuburitku hanyalah ngabubuwrite, alias nulis wattpad, nulis caption IG, nulis blog, nyelesaiin proyekan, dan paling penting nyiapin menu buka puasa. 

Dulu, kupikir, bakal selamanya di perantauan. Kalau lagi iseng, nyempil di sekret padahal udah alumni. Kukira bakal terus bareng temen-temen di rantau sana, tapi nyatanya enggak. 

Dari sini aku belajar, bahwa tak selamanya keadaan sama. Tak selamanya kita bisa tinggal dengan orang-orang yang kita inginkan. Tak selamanya kita melakukan hal-hal yang kita senangi. 

P.S. Foto di atas anggap saja foto yang kudapat sewaktu di perantauan. Ehe. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.