Bisakah kita ...
Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing.“Nilaimu
turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak
perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu! Kordinator MPK apanya?”
Jack
bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali,
tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya.
Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya
ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang
mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan.
“Kamu
masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti
ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membuat dia
mabuk-mabukan tiap malam, menghabiskan uang gajinya secara rakus untuk perut
sejengkalnya yang sebentar lagi meletus itu! Belum lagi hutangnya yang menumpuk
di pakter tuak karena kadang gajinya sudah habis lebih dulu. Kamu mau hidup
seperti itu?!”
ENGGAK!
Bolehkah
dia meneriaki wanita di hadapannya ini?
Tapi
bagaimanapun, Jack tidak pernah melakukannya. Semua tertahan di dalam sana,
menunggu kapan akan meledak. Memang sudah seperti bom waktu.
“Iya.
Besok Jack nggak ngeband lagi.”
“Buruan
mandi. Ibu udah siapkan telur gulung kesukaanmu persis seperti di anime-anime
yang kamu tonton.”
Kalau
mengingat telur gulung, Jack ingin bilang, “Bu, masak apa saja tidak perlu memikirkan
kesukaanku. Yang penting kita makan.”
“Jack?
Kamu ngapain ngelamun? Waktunya jalan terus. Kamu masih harus belajar lagi.”
Belajar
... lagi.
Jack
ingin kaya.
Ingin
pintar.
Ingin
punya kedudukan tinggi.
Tahun
depan dia harus jadi Ketua Osis, bagaimanapun caranya.
Mulai
semester ini dia harus dapatkan beasiswa yayasan, bagaimanapun caranya.
Serta,
dia harus menghasilkan sepuluh juta dalam waktu enam bulan hasil kerjanya di
bengkel. Dua juta selama sebulan hasil kerjanya di warung mi aceh milik
tetangga. Harusnya dia minta bekerja setiap hari supaya bisa menghasilkan lima
juta selama sebulan, bukan hanya akhir pekan saja.
Menjadi
orang kaya itu membuat ruang geraknya lapang, pikir Jack.
***
Telur
gulung yang didadar seadanya menggunakan panci anti lengket yang lapisannya
sudah mengelupas itu membuat Jack menghentikan kunyahannya. Matanya mendadak
sesak meski yang penuh dengan nasi adalah mulutnya. Rasa telur gulung itu
selalu sama setiap harinya. Tidak pernah berbeda sama sekali. Apakah ibunya
menghapal resep dari sana? Supaya Jack makan dengan baik setiap malam.
“Kamu
benaran harus keluar band, Jack.”
Suara
wanita yang tidak pernah lembut itu menginterupsinya. Jack memang belum
melanjutkan kunyahannya. Tapi justru kembali melembutkan makanan dalam mulutnya
itu agar segera menyahuti.
“I
... ya bu.” Sahutannya terbata. Jack bahkan belum memikirkan soal keluar band
sepanjang ia melaksanakan ritual mandi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah,
bagaimana cara menghabisi pria yang membuat ibunya menjadi begini. Jack amat
benci hidup dengan penuh tekanan, tanpa bisa melakukan keinginannya. Dia ingin
main band. Paling tidak itu adalah jalan paling ringan karena dia tidak mungkin
bergabung di klub musik untuk mengasah kembali minatnya pada biola.
Sudah
lama sekali dia tidak memegang benda yang lebih kecil dibanding gitar itu. Sejak
semua berantakan; rumahnya.
“Tinggalkan
Osis juga. Ibu dengar kamu sibuk sekali, sering keluar kelas karena ngurusin
Osis.”
Mendengar
pertanyaan tersebut, Jack jadi teringat komentar Binar pekan lalu, “Mereka itu
lebih ngira lo babu dibanding malaikat, Jack.”
“Jack,
kamu dengar nggak?”
“Hah?”
“Kamu
ngelamunin apa sih Jack? Jangan manja. Tinggalkan yang nggak perlu. Fokus sama
sekolah dan kerjaan. Kamu tau kan─”
“Ayahmu
sudah bikin malu keluarga berkali-kali.”
Setelah
memotong kalimat ibunya, Jack meletakkan sendok yang dipakai untuk makan. “Aku
harus belajar, maaf bu telurnya nggak kuhabisin.”
***
Jack
tetap punya media sosial, meski jarang mengunggah. Entah apa yang harus dia
unggah di sana. Tidak punya bahan. Paling banter kalau Binar sedang usil menyambar
ponselnya, mana pemuda manis itu akan mengunggah fotonya di akun Jack. Atau kalau
Jack sedang sangat ingin mengutarakan perasaannya, dia akan membuat baris-baris
kalimat yang terpisah. Tidak menyambung seperti sebuah cerita. Hanya potongan
yang membuat pembacanya ambigu.
Liburan
bareng Mama Papi, check!
Ayunina
Pradita. Sahabat yang seminggu lalu baru pulang dari Jepang itu mengunggah foto
keluarganya. Jack menekan tanda suka di layar ponselnya. Tatapannya memaku selama
lima menit setelahnya.
“Enak
sekali bisa mengunggah foto keluarga,” pungkasnya. Salivanya terteguk kasar. Batinnya
menyesali kekacauan yang terjadi pada keluarganya. Sebelum ingin menjadi kaya
raya, sebenarnya yang diinginkan Jack hanyalah satu keluarga utuh yang tidak
memiliki banyak masalah, melukai nama baik keluarga, serta terhentinya sikap
kasar yang terjadi pada rumahnya. Andai Jack bisa bilang itu kepada kedua orang
tuanya, untuk tetap akur, untuk saling sadar serta memperbaiki.
Tapi,
alih-alih mengatakan itu, kini Jack hanya ingin mewujudkan obsesi ibunya. Menjadi
orang pintar, kuliah di kampus bagus, sukses, kaya raya. Sepertinya itu akan
membahagiakan ibunya yang semakin hari sering marah-marah padanya. Meski Jack
melakukan kesalahan dengan nilainya, ia tidak ingin sampai berhenti dari band. Selain
latihan hanya seminggu sekali, ia juga bisa mengatur waktunya. Lagipula, pada
merekalah Jack bisa tertawa. Hanya ketika sedang di studio yang ada di rumah
Nina. Selebihnya, dia tidak kenal apa itu tertawa? Tawanya hanya bisa digunakan
bersama Binar, Candra dan Nina; sahabatnya.
Halaman
dua puluh enam dibuka dengan gerakan halus menggunakan ujung jemarinya yang
semakin hari kian kasar. Bunyi gesekan antara jemari dan kertas mengisi hening
malam. Sudah jam sembilan dan Jack baru mulai belajar.
Muda
Kaya
Raya
Kalau
bisa mati masuk surga.
Tulisan
yang dicetak menggunakan huruf kapital itu tertempel pada papan tulis putih di
dinding kamarnya; depan meja belajar. Jack memberi jeda untuk menatapnya
sebentar sbeelu akhirnya fokus pada buku tebal tanpa gambar tersebut.
***
“Gue
keluar band. Jangan tanya kenapa.”
Jack
meletakkan pick gitarnya di atas keyboard di hadapan Candra. Ia pergi
begitu saja setelah baru saja masuk ke dalam studio. Nina menatap kepergiannya
bingung. Punggung lebar itu sudah menghilang dari balik pintu, menyisakan Binar
dan Candra yang saling bertatapan dan mengendikkan bahu. Nina masih memaku,
tidak bersuara.
“Bentar
gue telpon Jack,” ujar Binar, memecah keheningan. Tapi tidak ada respon. Pemuda
itu memilih menekan nomor Jack tanpa menunggu respon teman-temannya.
“Mati
handphonennya,” pungkas Binar, kecewa mendengarkan suara operator yang selalu
sama setiap saat.
“Jack
kok nggak pernah cerita ya kalo ada masalah?” tanya Nina.
“Memangnya
dia ada masalah apa?” tanya Candra polos.
“Kalo
Nina tau, dia nggak nanya, Can.” Binar jadi gemas sendiri.
“Padahal
gue selalu cerita ke dia kalo ada masalah.” Nina menghela napasnya. Meletakkan bassnya
di atas bangku. Gadis itu mendudukkan diri pada sofa merah di dalam studio.
“Gue
juga,” sahut Candra.
“Apalagu
gue. Sekecil apapun yang ganjelin pikiran gue, gue cerita ke Jack. Dan dia kasih
saran yang ampuh.” Binar menjatuhkan bahunya. Bokongnya ikut terduduk di
sebelah Nina, sementara bibir bawahnya mencuat.
Jangan
cari gue sekarang. Kalian latihan yang bagus. Cari pengganti gue sebelum
festival sekolah berlangsung.
Nina
langsung bangkit dari duduknya setelah menerima satu pesan dari Jack. Isinya mengecewakan,
meski begitu, gadis itu membacakannya di hadapan teman-temannya.
“Bentar
deh, gue telpon Bang Nicho. Mungkin Ketua Osis tau dia punya masalah apa.”
***
“Dia
juga keluar dari Osis, ngundurin diri dari Korbid MPK. Astaga kenapa sih anak
ini?” Nina mengacak rambutnya frustasi. Binar dan Candra juga tak tahu harus
melakukan apa, kecuali menggaruk kepala masing-masing.
Fin
07/01/21
Orizuru Ori

Mbak kenapa alurnya selalu bagus. Kenapa ga buat novel aja gitu. Gemes sih sebenernya
BalasHapusIni udh diposting di wattpad. Tp bagian ini bru mbk tulis td malam.
BalasHapus