Langsung ke konten utama

MENGUBAH ARAH HANYA ALASAN

 


 

Tak banyak yang tahu mengenai ini. 

Maka beruntunglah kamu yang membacanya lewat blog yang aku hanya mengunggahnya di sini; eksklusif. Ini tentang arah angin yang berubah. Berbalik tanpa tedeng aling, yang kadang membuatku termangu, menatap diri sendiri lewat cermin bulat yang ukurannya bisa digenggam.

Dalam dunia nyata, aku bukan seseorang yang kuat dalam memertahankan argumen. Memilih mengalah dan tak mengatakan apapun lagi. Di lain sisi, alasanku mengalah adalah; barangkali yang menjadi keputusan seseorang ini menjadi sesuatu yang baik buatku. Sesederhana itu meski di kemudian aku juga lupa, hal buruk maupun baik yang ada padaku ini keputusan siapa di masa lampau?

Pada akhirnya, ketidakkuatanku dalam memertahankan argumen dan keinginan hanyalah menjadikanku seseorang yang merubah arah mata anginnya. Terlampau jauh.

“Mak. Tamat kuliah aku mau nyantri, di Jogja. Kalau beruntung, mau sekalian kerja atau kalau sanggup lanjut strata dua.”

Aku lupa kapan tepatnya, tapi yang kuingat, keinginan itu kulontar pada ibuku tahun 2018 silam. Sewaktu aku masih punya beberapa perkuliahan dan sibuk mengurus organisasi bersama rekananku. Sebelum menyampaikan hal tadi, aku mulai bergabung dengan komunitas baca Quran yang punya cabang pada tiap regional, makanya aku bertekad untuk melakukan hal tadi di masa depan.

“Enggak. Nggak perlu. Di rumah aja. Untuk bakti ke orang tua nggak cuma dengan nyantri jadi hafidzah!” Suaranya lantang, memang sudah begitu dari dulu. Percakapan yang hanya lewat telepon seluler itu berhasil meluruhkan air mataku. Satu persatu bulirnya jatuh. Aku kehabisan kalimat dan mengisak sendirian di kamar kos yang waktu itu hanya berukuran dua kali tiga meter. Beruntungnya, teman kosku sedang pulang kampung, jadi dia tidak melihat diriku yang menyedihkan ini. Yang patah hanya karena keinginannya ditolak mentah-mentah, alih-laih memberikah penjelasan lebih banyak agar ibuku berubah pikiran. Ya, aku tidak melakukannya. Aku hanya bilang, “,memang. Ini semua karena ayah! Andai dia nggak berulah, pasti aku nggak bakal ditekan begini.”

Hanya itu. Yang kulakukan justru menyalahkan oknum lain di luar percakapan kami. Lantas sambungan teleponnya kuputuskan sepihak. Aku sudah membayangkan bagaimana kelak menjadi salah satu santriwati di pesantren tahfidz yang sebenarnya belum tahu di mana; sudah ada beberapa referensi. Mungkin karena sudah memimpikan sebaik itu, maka aku jatuh sesakit itu. Aku lantas menyalahkan plot hidupku yang berantakan sejak sekolah dasar. Mengapa Allah menjadikanku seperti ini? Di usiaku yang tidak lagi belia, aku bahkan tertolak untuk melakukan keinginanku. Paling tidak keinginan ini untuk membahagiakan orang tuaku di akhirat kelak.

Setelah debat singkat malam itu. Aku tidak lagi menyampaikan keinginan itu, bahkan sekadar memberi penjelasan kepada ibu agar ia memercayaiku serta menyetujui keinginanku. Waktu yang kulewati tidak menjawab apapun selain; membuatku meninggalkan impian tersebut. Mengubah arah angin yang dulu pernah kutentukan. Perlahan kutinggalkan komunitas baca Quran tadi. Jadilah aku membaca Quran hanya kapanpun aku mau. Tidak punya target, apalagi sampai rutin setiap hari. Miris sekali melihat diri.

Sebenarnya, aku menulis ini mendadak. Pastinya sebelum melewati garis mati. Yang lucu adalah, itu sudah dua tahun lalu tapi mengapa aku menangis lagi ketika menulisnya? Hehe. Konyol sekali. Memalukan ketika aku sadar keadaanku sekarang. Jangankan menyantri, kuliah saja nggak kunjung selesai. Aku tahu, berbalik arah hanyalah alasan. Karena ketika dihadapkan oleh sesuatu yang menyakitkan, seharusnya aku memilih bangkit daripada jatuh dan terluka.

Fin.

3/1/21

Orizuru Ori

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.