Gadis yang terlihat dalam jangkauanku setiap hari terkikik memandangi ponselnya.
Jemarinya lihai berselancar di atas layar, kalau sedang ada panggilan, suaranya mendadak lembut sambil sesekali mengulas senyum. Padahal oknum penelpon tidak terlihat olehnya. Tapi gadis bernama Olivia itu juga sering menggunakan fitur panggilan video. Bahagia sekali bisa melihat seseorang di ujung sana, sedang tersenyum padanya.Aku
terlelap setiap hari. Bertengger tanpa tahu kapan akan berbinar kembali. Sudah lama
sekali kalau dipikir-pikir; setahun, ya? Mungkin. Sampai-sampai rasanya terlalu
nyaman tidur seperti ini tanpa ada yang mengganggu, sampai suatu hari, benda
tipis berbentuk persegi panjang itu berbisik padaku. Kabel pengisi daya
tersambung pada soket di salah satu sisi tubuhnya.
“Hei.
Kau tau. Aku kelelahan.”
Menyeringai.
Seolah aku adalah tokoh antagonis. Padahal sebenarnya seringaianku tidak berarti
apa-apa. Hanya saja menyadari, kalau yang menyenangkan berarti melelahkan.
“Bukannya
menyenangkan, ya?” balasku. Tak bergerak sedikitpun. Hanya mengeluarkan suara
sementara benda di sebelahku juga tidak bergerak. Kali ini dia sedang mengisi
tenaganya, tumben sekali menyapaku meski dengan sambatan.
“Sebenarnya
sudah lama ingin kukatakan padamu. Tapi, aku sungkan. Melihatmu berdiam diri dengan
tatapan bengis.”
“Aku?
Bengis? Yang benar saja. Mungkin karena aku tertidur dengan mata sedikit
terbuka karena gadis itu tidak menutupku dengan benar selama setahun.”
“Bagaimana
rasanya beristirahat begitu lama?” tanyanya lagi. Si ponsel ini benar-benar
ingin tahu, padahal dia punya layanan pencarian yang memudahkan untuk
mengetahui apapun. Tapi mengapa harus banyak tanya padaku? Sudah kubilang aku
jadi nyaman berdiam diri tak melakukan apapun serta tak disentuh siapapun.
“Ya,
menyenangkan. Tidur sepuasnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pertanggungjawaban
akhirat,” sahutku seadanya. Sesederhana kenyataan. Kalau aku disambangi, bukan
aku yang diberi pahala, tapi oknumnya. Sementara kalau aku tidak dibuka
sekalipun, aku tetaplah aku. Hanya saja ...
“Lantas
bagaimana denganku? Kadang-kadang aku digunakan untuk bermaksiat. Melihat sesuatu
yang tidak semestinya. Sampai sesekali kumatikan sendiri dayaku agar gadis itu
mengira aku sedang rusak.”
“Entahlah.
Aku bukan Tuhan. Mungkin yang bakal diberi perhitungan tetaplah empunya; yang
memilikimu.”
“Pemilikku,
adalah pemilikmu juga. Tau,” tegasnya. Tak terima kalau dia hanya sendirian.
“Ya.
Itupun kalau dia ingat masih memilikiku. Kau tidak lihat? Tubuhku bahkan
diselimuti debu yang menggelikan. Sedangkan kau dibersihkan tiap hari. Mungkin dia
benar-benar lupa kalau aku ini miliknya dan bisa menjadi pengantar komunikasi
antara dia dan Tuhannya.”
“Menurutmu,
aku tidak bisa menjadi seperti itu?”
“Bisa.
Tapi Olivia tidak menggunakanmu untuk itu. Dia menggunakanmu untuk dunianya
serta orang-orang yang bahkan hidupnya sebentar.”
“Akhirnya
penuh. Yuk, mari kita pergi.” Suara Olivia terdengar oleh kami. Si ponsel dilepaskan
dari pengisi daya, pun telah penuh. Gadis itu pergi bersama benda yang sejak
tadi mengeluh padaku. Sedang aku, kembali sendirian. Sudahlah, memang enaknya
tidur.
***
Sudah
beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan si ponsel yang pengeluh dan suka
ngambek itu. Memang, sebelum ruangan ini tak berpenghuni, kudengar Olivia
mengisak dan samar-samar kudengar dia akan pergi. Pintunya terkunci,
lampu-lampu ruangan dimatikan. Cicit tikus menjadi teman nyata dan rutin
bagiku. Aku menghela sesaat setelah lampu dihidupkan secara tiba-tiba. Itu Olivia!
Wajahnya bengkak. Matanya apalagi.
“Hiks.”
Setelah
isakan pertama menyapaku, kudengar ia langsung menuju kamar mandi. Suara air
mengucur terdengar. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang gelap ini.
Gadis itu keluar dari kamar mandi dan menarik sepasang mukenah dari hook mahal
yang dia letakkan di sudut kamar kosnya ini.
Ajaib!
Olivia salat Ashar setelah setahun. Entah tepat setahun atau lebih, aku tidak
tahu. Soalnya aku tidak punya kapasistas mengingat. Kupantau gadis itu masih
mengisak dalam salatnya. Ponsel yang kemarin menyapaku tidak terlihat, mungkin
dia di dalam tas dan tak bisa memanggilku.
Uhukk
... Uhukk ...
Ck.
Apa ini? Kenapa menggelikan sekali saat sebuah tissu menyapa tubuhku? Sialnya lagi
aku justu terbatuk. Meski akhirnya aku bersih. Gumpalan debu yang menyelimutiku
sudah enyah. Lagi, apa ini? Kenapa banyak sesuatu mengejutkan hari ini? Ialah Olivia
yang mengangkatku setelah tadi membersihkanku. Gadis itu membukaku pelan,
mencari Surah Al-Mulk yang kata manusia, menjadi pengobat sedih.
Olivia
terbata, bahkan pada bacaan taawuz mulai detik pertama. Entah itu karena
isakannya yang belum berhenti, atau karena dia lupa. Meski begitu, gadis itu
tetap membaca. Sampai akhirnya lembarku basah, oleh air mata yang tak terbendung.
Bergulir melewati pipi sampai menjatuhiku.
Jelas
aku tidak ingin marah. Justru bahagia karena akhirnya Olivia ingat kalau dia memilikiku.
Menjadi penghiburnya disaat ia sedih. Tak apa dia datang hanya ketika saat itu
saja, tapi yang pasti, kesedihan didatangkan padanya untuk mengingatku. Memberiku
kesempatan untuk menjadi penghubung antara dirinya dan Tuhan.
Olivia.
Menangislah pada tiap lembarku. Tak apa. Kelak akan mengering tanpa perlu
melakukan apapun. Berjanjilah untuk tetap mengingatku meski sesekali. Aku tidak
pernah ingin melukai serta merugikanmu bahkan sejak saat kau ulurkan lembaran
uangmu untuk ditukarkan kepada penjual agar bisa membawaku pulang.
“Maafkan
aku, Ya Rabb. Aku lalai, terlalu kagum pada dunia. Terlalu mencintai kekasihku
sampai lupa kalau aku memilikMu. Terima kasih sudah mengingatkanku meski aku
harus kehilangan seseorang itu. Tidak bisa kulihat lagi selamanya.”
“Hei
Quran.” Suara si berisik itu mengganggu fokusku padahal Olivia sedang tersedu-sedu
di hadapanku. “Akhirnya Olivia mengingatmu. Ayo kita sama-sama menjadi
bermanfaat untuk Olivia.”
“Kau
ini julid sekali. Bisa-bisanya menyapaku padahal Olivia sedang menangis di hadapanku.”
Fin.
4/1/21
Orizuru Ori
Noted:
tidak diedit. Mohon jangan tiru cara penulisannya yang takutnya justru
menyesatkan.
Komentar
Posting Komentar