Langsung ke konten utama

HARGA YANG AKU MAU; HARI KEEMPAT

 


Harga Yang Aku Mau

30 Hari Ngeblog; Hari keempat

Disclaimer: Tulisan ini adalah opini saya. Kalau berkenan menyanggah, dipersilakan. XD

Bekerja sebagai pekerja kreatif memang menantang, apalagi seorang freelancer atau pekerja lepas; tidak ada ikatan dinas yang membebaskan kita untuk mengambil beberapa pekerjaan lain. Sebagai seorang pemula, pekerjaan ini seolah aman, padahal tetap saja kita menanggung konsekuensi.

Kak, kamu kok kasih harga desain murah banget?

Pemula di bidang desain grafis yang melakukan segala aspek desain grafis, itu adalah aku. Ya, tidak semua bidang, sih. Tapi menekuni beberapa yang akhirnya bisa mengisi uang di kantong tanpa harus berangkat ke kantor; duduk di balik meja kerja sambil menikmati kopi buatan sendiri pakai kopi hitam yang kemudian diolah menjadi berbagai varian. “Kamu bisa kerjakan logo?”. Aku tidak menolak. “Kamu bisa kerjakan layout buku?” Ku iyakan. “Kamu bisa edit video?” Ya, tipis-tipis lah kata Orang Medan. Apalagi ya? Layout untuk branding media sosial juga kujabanin.

Putaran pertemananku juga tak jauh-jauh dari para pemula, yang belajar secara mandiri meski terkadang juga belajar bersama. Kadang-kadang kami mengobrol soal desain yang kalau dibandingkan Om Rio Purba, jelas sangat jauh. Ngomong-ngomong, Om Rio itu Youtuber merangkan freelancer design yang sudah punya pengalaman internasional, loh. Asli Orang Medan.

Balik lagi nih, soal lingkaran pertemananku. Beberapa orang pernah bertanya, berapa fee yang kudapatkan untuk proyek dari A? Kujawab nominalnya, karena sebenarnya dia juga sedang mencari referensi untuk dirinya menentukan harga. Lantas, aku diprotes. Katanya itu terlalu murah. “Kalau aku sih, udah nggak mau nerima yang feenya di bawah sekian.” Ya, orang bebas berpendapat apalagi itu menyangkut pekerjaannya serta uang yang harus ia dapatkan untuk membayar keringat serta pemikiran yang sudah dia keluarkan.

Dan dia juga tidak bisa menghakimi tentang berapa uang capek yang pantas kudapatkan untuk satu proyekan. Kalau dihitung-hitung, harga yang kutentukan seringkali hanya balik modal; bayar listrik, beli kopi yang akhirnya kuracik sendiri, beli cemilan karena aku nggak bisa kerja tanpa makanan kecuali memang sedang puasa. “Nggak apa, kan masih pemula. Masih belajar,” sahutku, berusaha untuk merangkai kalimat yang tidak menyinggung lewat obrolan media sosial; karena sedang pandemi.

Pada dasarnya, semua orang tetap masih belajar meski sudah profesional sekalipun. Akan selalu ada hal baru yang menjadi pemicu kita mengembangkan skill dan taste. Berkreasi seharusnya memang tanpa batas.

Lantas kenapa aku tetap kekeuh pada patokan harga yang tadi dikomentari seorang teman?

Pernah waktu itu, saat aku asyik berselancar di media sosial, Instagram. Unggahan Om Rio Purba lewat dong. Kebetulan judulnya mewakili kegamanganku soal fee tadi. Oh iya, aku juga sempat gamang sebenarnya karena aku pernah mendengar petikan seperti ini, “,nggak ada desain yang murah,” begitulah kira-kira bunyinya. Aku lupa pastinya, karena aku pelupa ditambah lagi menontonnya di Youtube. Nah, karena itu pula, sewaktu unggahan Om Rio lewat, aku langsung gerak cepat (tumben). Judulnya  DESAIN MURAH APAKAH SALAH? Asli sih, judulnya pakai UPPERCASE, langsung mempersuasi diri untuk buka slide selanjutnya.

Gak. Desain murah itu gak salah sama sekali. Lah gimasa sih? Riopurba kok gak konsisten nih! Okay, kita mulai yaa.

Slide selanjutnya berisi kalimat di atas. Katanya, sebagai seorang brand designer, value desain memengaruhi harga desain. Semakin besar value desain tersebut, maka harga desain semakin tinggi. Sebaliknya kalau desain kita hampir tidak ada valuenya, maka semaki rendah juga harganya. Dari sini beliau menyebutnya segmentasi pasar.

Nggak perlu dijelasin mendetail tentang unggahan Om Rio, teman-teman mungkin bisa mengerti. Atau kalau ingin lengkap, boleh langsung tinjau ke unggahan Instagram beliau. Hal yang mampu kusetujui dari ini adalah, karena aku berpikir untuk teknis desain saja aku masih banyak kekurangan, belum lagi tastenya, apalagi valuenya. Aku belum percaya diri kalau desain yang kubuat akan membuat salah satu brand naik secara drastis. Lagipula  sejauh ini, aku tahu siapa-siapa saja klienku, ialah mereka yang masih baru memulai.

Atas alasan ini pula, aku menjadikan proyek yang diberikan klien sebagai bahan belajar karena sungguh, kalau nggak ada proyekan, aku juga buka tipekal orang yang mau mencoba model baru. Aku punya beberapa hal yang  kusukai jadi, untuk fokus hanya belajar desain saja rasanya kurang memuaskan. Anggap saja seperti itu. Dan bukan berarti sejak dulu aku masih memakai patokan harga seperti pertama kali menerima proyek. Aku juga menaikkan harga seiring dengan kualitasku. Biar malas begini, aku juga membaca sudah sampai di mana aku sekarang. Sudah sepantas mana yang kupunya.

Jadi kawan-kawan. Mau harga rendah atau tinggi, itu pilihan masing-masing orang. Kita bisa menilai diri sendiri. Jangan lupakan juga uang listrik dan biaya ngopimu. Eits, bukan berarti kamu jadi suka-sukanya ngopi di tempat mahal. Wkwkwk. Jangan sampai orderanmu cuma logo online shop yang masih baru memulai, eh kamu ngerjain desain plus ngopinya di warung kopi internasional sejenis bintangbuck. Modar juga nanti kantongmu.

Sudahlah, cukup untuk hari ini. Ngomong-ngomong aku baru sadar, semakin hari, jumlah karakter yang kutulis kian banyak. Berbeda dengan hari pertama, dimana blog ini pertama kali dibuat dan dipakai. Terima kasih kepada penyelenggara super cerewet tapi ngangenin; Isma Hdyzm. Hdyzm ini kayaknya Hidayati Zam-Zam. Dasar bucin padahal udah ditinggal nikah.

Selamat berkreasi, karena sebagus apapun karyamu tetap akan ada yang tidak suka. Begitupun sejelek apapun karyamu, akan ada orang-orang yang selera dengan itu.

Selamat malam. Cie diucapin selamat malam.

Fin.

05/01/21

Orizuru Ori

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.