Langsung ke konten utama

(Bukan) Puisi Terakhir-Hari Kelima

 



(Bukan) Puisi Terakhir

Suatu saat,

Akan kubawa kau ke Yogyakarta

Menikmati debur ombak pantai selatan di atas sepasang kursi malas menjelang senja

Esok paginya, kuajak kau menikmati dinginnya puncak pinus Becici

Sembari menikmati teh jahe yang kubawa menggunakan termos tahan panas

Yogyakarta lebih dingin daripada kampung halaman kita saat pagi hari

Tapi tidak apa-apa, ada aku, secangkir teh serta  senyumku yang menghangatkanmu

Mey, Raha-

Memilih surat sebagai penyampai puisi-puisinya bukan tanpa alasan. Ia ingin puisi-puisi tersebut tetap tersimpan untuk Mey seorang diri tanpa bisa terhapus seperti yang ada di aplikasi ponsel.

Mencintai seorang Mey−perempuan desa yang senyumnya saja membuat Fakih tertawa lebar. Sepasang bola matanya selalu indah menurut Fakih, bahkan hingga terakhir kali bertemu idul fitri lalu.

Masih pukul tujuh, meski matahari sudah mulai meninggi. Laki-laki itu memutar kunci yang bersarang di pintu kayu tersebut. Sama sekali belum ada aroma kopi karena ia selalu lebih dulu datang dibanding Rangga−teman sekaligus barista yang membantunya menjalankan kedai kopi dengan lima meja untuk pengunjung ini. Hanya lima meja dan sepasang kursi di tiap mejanya.

Tinggg...

Masih baru lima menit ia berdiri di balik mesin espresso untuk membersihkan beberapa perlengkapan, tetapi lonceng di ambang pintu sudah berbunyi−pertanda seseorang telah menabrak talinya dan masuk ke dalam kedai tersebut.

‘Kopi Musim Panas’

Plang nama tersebut bertengger manis tepat di depan counter dapur. Hanya sepotong kayu Belanda berukuran 30 x 10 cm serta goresan tinta yang ditulis menirukan salah satu typeface paling diminati tahun ini.

Fakih mengintip dari balik counter usai membereskan beberapa perlengkapan dapurnya.

“Kinan?” gumamnya penuh tanya. Kinan, ialah gadis yang mulai berteman baik dengannya di dunia maya lewat perkenalan dari salah satu temannya di luar kota.

“Espresso dan waffle dengan madu.” Lelaki itu meletakkan nampan di atas meja. Perempuan berkerudung abu-abu yang ujungnya diikat ke belakang itu menoleh. Ia tertegun sedang Fakih mengulas senyumnya.

“Selamat datang di Yogyakarta, Kinan.”

“Aku beneran enggak nyangka kamu di kedai ini.” Gadis itu menyuap alasannya. Tentu, Kinan benar-benar hanya ingin singgah ke sini karena kakaknya belum bisa menemani jalan-jalan pagi ini. Kinan nyaris melompat ketika fokusnya menangkap sosok Fakih. Yah, Fakih adalah seseorang yang membuat bunyi di rongga dadanya berbeda. 

“Begitulah memang, kita gak akan pernah tau dengan siapa kita dipertemukan saat kita membuka mata,” balas Fakih. Menit sebelumnya ia ikut duduk; berhadapan dengan Kinan dengan dibatasi sebuah meja persegi yang sempit.

Kinan meraih gelasnya, menyesap bagian kecil dari cairan hitam pekat tersebut. Tiba-tiba saja alisnya menukik sebelah. “Enak Ki!” serunya. Kontan pupilnya membesar. 

“Sebenarnya Baristanya bukan aku. Dia belum datang dan kebetulan kamu lebih dulu datang dibanding dia. Kupikir, gak salah juga cobain mesin espresso pagi-pagi.”

“Memangnya kamu gak minum kopi kalau pagi?”

“Aku lebih suka susu. Makanya aku pernah bilang ke Adnan dan kamu kalau aku bikin puisi soal senja, bakal rumit karena bunyinya kayak gini ‘Aku, senja dan susu’ duh bisa lari pendengar.”

“Hahaha. Ada-ada aja kamu. Tapi serius loh ini enak.”

“Ngomong-ngomong, ada apa ke Jogja? Tiba-tiba juga, nggak ngasih kabar gitu ke aku.”

“Jalan-jalan doang. Kakakku kuliah di Jogja. Tapi hari ini dia nggak bisa nemenin, ya udah aku pergi sendiri.”

“Gimana kalo aku yang temenin. Ada banyak tempat yang bisa dibikin footage kalo kamu mau?”

“Serius? Kamu tau kan aku suka cari footage buat belajar editing.”

“Habisin wafflenya. Setelah itu kita berangkat.”

Dalam rentang waktu seminggu, menjadi teman jalan-jalan Kinan adalah suatu kebiasaan baru bagi Fakih. Pagi hari gadis itu akan membantunya sebentar membereskan kedai sebelum Rangga datang. Setelah itu mereka mendatangi tempat-tempat yang belum pernah didatangi oleh Kinan.

“Fakih.”

“Hmm?”  ia menyahut sembari tetap fokus menarik kerang dari tusukan sate menggunakan giginya.

“Puisimu ... Bagus.” ujarnya terbata. Tadi pagi, Kinan sempat melihat memo rekat di counter dapur. Fakih lupa melepasnya sejak seminggu yang lalu−potongan puisi yang ia tulis untuk Mey.

Fakih menahan suaranya, memilih kunyahan sebagai pengalihan dari jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang . Ini pertama kali komentar semacam itu terlontar padanya dari seorang gadis−sedang Mey tidak pernah berkomentar apapun. Tapi Fakih tidak ingin diam saja sampai perpisahan mereka di ujung malam nanti. Benar, ia harus memberi jawaban atas pujian tersebut.

“Nanti kubuatkan untukmu, ketika aku sudah di Raha.”

***

Tidak ada puisi untuk Mey selama seminggu. Hari-harinya disibukkan oleh kegiatan jalan-jalan bersama teman barunya yang datang dari luar kota−Kinan. Gadis yang selalu berjingkat bersama sneakers abu-abunya ketika sampai di satu tempat baru itu berhasil membuat Mey hilang dari ruang-ruang di kepalanya−terganti oleh Kinan setelah pertemuan mereka di penghujung malam kala itu.

Apa ini akan menjadi puisi terakhir untukmu, Mey?

Aku tidak tahu pasti

Tiba-tiba aku merasa sangat senang berada di sebelahnya padahal tawanya tak seindah milikmu

Pecundang macam diriku, masih pantaskah kau tunggui kedatangannya

Tapi Mey, begitulah manusia

Serba tidak pasti

Bahkan untuk sesuatu yang sudah lama ia nanti

Mey...

Tolong jangan jemput aku di dermaga jika kabar kepulanganku sampai padamu, ya?

Lipatan kertas tersebut ia simpan di dalam kotak kayu berwarna putih bersama bolpoinnya. Ini adalah surat pertama untuk Mey yang tidak dikirimkan melalui pos. Fakih memilih untuk menyimpannya, tentang akan ia sampaikan pada Mey tergantung bagaimana nantinya.

“Besok aku berangkat ke Muna, Nan.”

Fakih membiarkan ponselnya tergeletak di sisinya sedang pembicaraannya disambung menggunakan earphone.

“Kalau aku ke Muna, kamu bisa jadi tour guidenya lagi?”

“Jangan ke Muna kalau belum siap Nan.”

“Kenapa memangnya?”

“Sekali kamu menginjakkan kaki di sana, kamu bakal ingin menetap di sana.”

“Enggak mungkin lah. Orang tuaku di sini. Buat apa aku menetap.”

“Entahlah. Kita seringkali enggak tau sesuatu seperti apa yang bakal terjadi sama kita di masa depan.”

“Jangan lupa puisinya.”

Fakih terdiam lagi. Soal puisi, selama ini ia hanya membuatnya untuk Mey.

“Kamu udah ngantuk Ki? Aku tutup telponnya. Titip salam untuk Muna.”

***

Benar.

Mey tidak datang untuknya ke Dermaga senja kala ini. Seharusnya ia masih di sini lepas mengantar ayahnya pergi melaut−gadis itu akan duduk di dermaga menyaksikan matahari tenggelam.

“Lihat kak Mey?”

Aqyla. Remaja tujuh belas tahun yang memiliki kebutuhan khusus ialah adik kandung Fakih. Mey sangat sayang padanya. Kalau Mey sedang luang, ia akan dengan ringan hati mengantarkan Aqyla bimbingan belajar mempersiapkan ujian nasional.

Gadis itu, dengan sepasang baju merah jambunya serta kerudung yang dipakai sedikit miring; menggeleng. “Kak Mey gak keliatan sejak kemarin sore, Bang.”

Fakih teringat satu lembar surat yang tidak ingin ia sampaikan pada Mey. Hari ini pikirannya berubah, Mey harus tau sesuatu yang sudah berubah itu. Besok pagi, ia harus menemui Mey−setelah lama ia tidak memberi kabar pada gadis tersebut.

Kepada Mey

Besok pagi Mey, kita lihat fajar bersama. Saya sudah pulang ke Raha.

Ia menekan tanda kirim di screen ponselnya. Malam begitu terasa sangat panjang baginya. Usai makan malam Fakih meminta izin pada keluarganya untuk ke kamar lebih dulu dengan alasan jet lag.

***

Mey sudah berdiri di ujung dermaga−menanti Fakih sementara matahari mulai meninggi.

“Mey.”

Suara itu. Mey akhirnya bisa mendengarnya kembali−setelah selama ini yang muncul di ilusinya adalah bayangan lelaki itu sedang mencipta puisi untuknya lantas membacakannya. Mey memutar tubuhnya. Lelaki itu menggandeng adik kesayangannya dengan seragam putih abu-abu. Fokus mereka bertemu, belum ada salah satu diantaranya yang berniat membuka suara.

Sedang Fakih.

Lelaki itu−tangan kirinya menggenggam lengan Aqyla, sebelahnya ia gunakan memegang surat berisi puisi terakhir untuk seseorangnya. Tangannya meremas kertas tersebut setelah sorot mata Mey menabrak netranya. Fakih merubah pikirannya secara spontan. Mey tetaplah gadis yang mengisi ruang-ruang di kepalanya juga rongga dadanya. Pertemuan dengan Kinan ternyata hanya fatamorgana yang nyaris ia simpulkan akan menjadi sesuatu yang utuh. Semua kalimat yang ia rancang tadi malam agar tidak menyakiti Mey, hilang ditelan oleh pikirannya sendiri. Detik ini, Fakih hanya ingin berkata,

“Katakanlah Mey, selalu di dalam hatimu, kalau saya adalah anak laki-laki yang menyukaimu, seseorang yang melihat senyummu saja sudah bahagia luar biasa.”

Raha-

Fin

06/01/21

Orizuru Ori

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH-HARI KEENAM

  Bisakah kita ... Memperbaiki rumah yang terlanjur rusak? Saat tangan ini bergerak ingin memperbaiki dinding yang retak, atapnya ikut bocor, belum lagi pintu yang mendadak jebol. Rasanya aku ingin pergi saja, meninggalkan sisa kerusakan yang hanya puing-puing. “Nilaimu turun. Sudah ibu bilang jangan ikut band, itu cuma mainan orang kaya yang nggak perlu belajar keras. Tinggalkan itu Osismu!   Kordinator MPK apanya?” Jack bahkan belum merampungkan dorongannya pada pintu agar tertutup rapat kembali, tetapi wanita paruh baya yang di lehernya tertempel banyak koyo itu mengomelinya. Pemuda itu memaku di tempatnya; tepat di depan pintu yang kini sudah tertutup. Salivanya ditelan kasar, gigi-gigi gerahamnya bergesekan bersamaan dengan rahang yang mengeras. Jack mengulum bibirnya kasar, hendak melontar protes namun tertahan. “Kamu masih harus kerja, dan belajar. Masuk kampus bagus supaya nasibmu bagus. Nggak seperti ayah ibu. Jangan tiru sikap santai ayahmu yang akhirnya membua...

MEMERDEKAKAN KEINGINAN; HARI KEDELAPAN

  Cr. Twitter Memerdekakan Keinginan Hari ke delapan (di jadwal seharusnya ini hari ke sembilan). Semangat memerdekakan. Soalnya sudah 45 tahun kita teriak ‘Merdeka’. Mengapa rasanya, orang lain bisa dengan mudah mencapai tiap keinginannya?

Run and Write | Hari Kesepuluh

    Prolog Semua kepala tertoleh, abai sebentar dari buku catatan rapat yang baru ditulis paling banyak dua baris. Seseorang mendorong pintu kaca itu dengan napas tersengal. Setelah pintu terbuka sempurna, ia lantas menunduk memegang sepasang lututnya sambil masih mengatur napas. Seingat mereka; yang duduk di ruang rapat, gadis jangkung itu baru saja izin keluar untuk liputan menemani reporter baru karena dia adalah manajer tim lapangan.