(Bukan) Puisi Terakhir
Suatu saat,
Akan kubawa kau ke Yogyakarta
Menikmati debur ombak pantai selatan di atas sepasang kursi malas
menjelang senja
Esok paginya, kuajak kau menikmati dinginnya puncak pinus Becici
Sembari menikmati teh jahe yang kubawa menggunakan termos tahan
panas
Yogyakarta lebih dingin daripada kampung halaman kita saat pagi
hari
Tapi tidak apa-apa, ada aku, secangkir teh serta senyumku yang
menghangatkanmu
Mey, Raha-
Memilih surat sebagai penyampai puisi-puisinya bukan tanpa alasan.
Ia ingin puisi-puisi tersebut tetap tersimpan untuk Mey seorang diri tanpa bisa
terhapus seperti yang ada di aplikasi ponsel.
Mencintai seorang Mey−perempuan desa yang senyumnya saja membuat Fakih
tertawa lebar. Sepasang bola matanya selalu indah menurut Fakih, bahkan hingga
terakhir kali bertemu idul fitri lalu.
Masih pukul tujuh, meski matahari sudah mulai meninggi. Laki-laki
itu memutar kunci yang bersarang di pintu kayu tersebut. Sama sekali belum ada
aroma kopi karena ia selalu lebih dulu datang dibanding Rangga−teman sekaligus
barista yang membantunya menjalankan kedai kopi dengan lima meja untuk
pengunjung ini. Hanya lima meja dan sepasang kursi di tiap mejanya.
Tinggg...
Masih baru lima menit ia berdiri di balik mesin espresso untuk
membersihkan beberapa perlengkapan, tetapi lonceng di ambang pintu sudah
berbunyi−pertanda seseorang telah menabrak talinya dan masuk ke dalam kedai
tersebut.
‘Kopi Musim Panas’
Plang nama tersebut bertengger manis tepat di depan counter dapur.
Hanya sepotong kayu Belanda berukuran 30 x 10 cm serta goresan tinta yang
ditulis menirukan salah satu typeface paling diminati tahun ini.
Fakih mengintip dari balik counter usai membereskan beberapa
perlengkapan dapurnya.
“Kinan?” gumamnya penuh tanya. Kinan, ialah gadis yang mulai berteman baik dengannya di dunia maya lewat perkenalan dari salah satu temannya di luar kota.
“Espresso dan waffle dengan madu.” Lelaki itu meletakkan
nampan di atas meja. Perempuan berkerudung abu-abu yang ujungnya diikat ke
belakang itu menoleh. Ia tertegun sedang Fakih mengulas senyumnya.
“Selamat datang di Yogyakarta, Kinan.”
“Aku beneran enggak nyangka kamu di kedai ini.” Gadis itu menyuap
alasannya. Tentu, Kinan benar-benar hanya ingin singgah ke sini karena kakaknya
belum bisa menemani jalan-jalan pagi ini. Kinan nyaris melompat ketika fokusnya
menangkap sosok Fakih. Yah, Fakih adalah seseorang yang membuat bunyi di rongga
dadanya berbeda.
“Begitulah memang, kita gak akan pernah tau dengan siapa kita
dipertemukan saat kita membuka mata,” balas Fakih. Menit sebelumnya ia ikut
duduk; berhadapan dengan Kinan dengan dibatasi sebuah meja persegi yang sempit.
Kinan meraih gelasnya, menyesap bagian kecil dari cairan hitam
pekat tersebut. Tiba-tiba saja alisnya menukik sebelah. “Enak Ki!” serunya. Kontan pupilnya membesar.
“Sebenarnya Baristanya bukan aku. Dia belum datang dan kebetulan
kamu lebih dulu datang dibanding dia. Kupikir, gak salah juga cobain mesin espresso
pagi-pagi.”
“Memangnya kamu gak minum kopi kalau pagi?”
“Aku lebih suka susu. Makanya aku pernah bilang ke Adnan dan kamu
kalau aku bikin puisi soal senja, bakal rumit karena bunyinya kayak gini ‘Aku,
senja dan susu’ duh bisa lari pendengar.”
“Hahaha. Ada-ada aja kamu. Tapi serius loh ini enak.”
“Ngomong-ngomong, ada apa ke Jogja? Tiba-tiba juga, nggak ngasih
kabar gitu ke aku.”
“Jalan-jalan doang. Kakakku kuliah di Jogja. Tapi hari ini dia nggak
bisa nemenin, ya udah aku pergi sendiri.”
“Gimana kalo aku yang temenin. Ada banyak tempat yang bisa dibikin footage
kalo kamu mau?”
“Serius? Kamu tau kan aku suka cari footage buat belajar
editing.”
“Habisin wafflenya. Setelah itu kita berangkat.”
Dalam rentang waktu seminggu, menjadi teman jalan-jalan Kinan
adalah suatu kebiasaan baru bagi Fakih. Pagi hari gadis itu akan membantunya
sebentar membereskan kedai sebelum Rangga datang. Setelah itu mereka mendatangi
tempat-tempat yang belum pernah didatangi oleh Kinan.
“Fakih.”
“Hmm?” ia menyahut sembari
tetap fokus menarik kerang dari tusukan sate menggunakan giginya.
“Puisimu ... Bagus.” ujarnya terbata. Tadi pagi, Kinan sempat melihat
memo rekat di counter dapur. Fakih lupa melepasnya sejak seminggu yang
lalu−potongan puisi yang ia tulis untuk Mey.
Fakih menahan suaranya, memilih kunyahan sebagai pengalihan dari
jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang . Ini pertama kali komentar
semacam itu terlontar padanya dari seorang gadis−sedang Mey tidak pernah berkomentar
apapun. Tapi Fakih tidak ingin diam saja sampai perpisahan mereka di ujung
malam nanti. Benar, ia harus memberi jawaban atas pujian tersebut.
“Nanti kubuatkan untukmu, ketika aku sudah di Raha.”
***
Tidak ada puisi untuk Mey selama seminggu. Hari-harinya disibukkan
oleh kegiatan jalan-jalan bersama teman barunya yang datang dari luar
kota−Kinan. Gadis yang selalu berjingkat bersama sneakers abu-abunya
ketika sampai di satu tempat baru itu berhasil membuat Mey hilang dari
ruang-ruang di kepalanya−terganti oleh Kinan setelah pertemuan mereka di penghujung
malam kala itu.
Apa ini akan menjadi puisi terakhir untukmu, Mey?
Aku tidak tahu pasti
Tiba-tiba aku merasa sangat senang berada di sebelahnya padahal
tawanya tak seindah milikmu
Pecundang macam diriku, masih pantaskah kau tunggui kedatangannya
Tapi Mey, begitulah manusia
Serba tidak pasti
Bahkan untuk sesuatu yang sudah lama ia nanti
Mey...
Tolong jangan jemput aku di dermaga jika kabar kepulanganku sampai
padamu, ya?
Lipatan kertas tersebut ia simpan di dalam kotak kayu berwarna
putih bersama bolpoinnya. Ini adalah surat pertama untuk Mey yang tidak
dikirimkan melalui pos. Fakih memilih untuk menyimpannya, tentang akan ia
sampaikan pada Mey tergantung bagaimana nantinya.
“Besok aku berangkat ke Muna, Nan.”
Fakih membiarkan ponselnya tergeletak di sisinya sedang
pembicaraannya disambung menggunakan earphone.
“Kalau aku ke Muna, kamu bisa jadi tour guidenya lagi?”
“Jangan ke Muna kalau belum siap Nan.”
“Kenapa memangnya?”
“Sekali kamu menginjakkan kaki di sana, kamu bakal ingin menetap di
sana.”
“Enggak mungkin lah. Orang tuaku di sini. Buat apa aku menetap.”
“Entahlah. Kita seringkali enggak tau sesuatu seperti apa yang
bakal terjadi sama kita di masa depan.”
“Jangan lupa puisinya.”
Fakih terdiam lagi. Soal puisi, selama ini ia hanya membuatnya
untuk Mey.
“Kamu udah ngantuk Ki? Aku tutup telponnya. Titip salam untuk
Muna.”
***
Benar.
Mey tidak datang untuknya ke Dermaga senja kala ini. Seharusnya ia
masih di sini lepas mengantar ayahnya pergi melaut−gadis itu akan duduk di
dermaga menyaksikan matahari tenggelam.
“Lihat kak Mey?”
Aqyla. Remaja tujuh belas tahun yang memiliki kebutuhan khusus
ialah adik kandung Fakih. Mey sangat sayang padanya. Kalau Mey sedang luang, ia
akan dengan ringan hati mengantarkan Aqyla bimbingan belajar mempersiapkan
ujian nasional.
Gadis itu, dengan sepasang baju merah jambunya serta kerudung yang
dipakai sedikit miring; menggeleng. “Kak Mey gak keliatan sejak kemarin sore,
Bang.”
Fakih teringat satu lembar surat yang tidak ingin ia sampaikan pada
Mey. Hari ini pikirannya berubah, Mey harus tau sesuatu yang sudah berubah itu. Besok pagi, ia harus menemui Mey−setelah lama ia tidak memberi kabar
pada gadis tersebut.
Kepada Mey
Besok pagi Mey, kita lihat fajar bersama. Saya sudah pulang ke
Raha.
Ia menekan tanda kirim di screen ponselnya. Malam begitu
terasa sangat panjang baginya. Usai makan malam Fakih meminta izin pada
keluarganya untuk ke kamar lebih dulu dengan alasan jet lag.
***
Mey sudah berdiri di ujung dermaga−menanti Fakih sementara matahari
mulai meninggi.
“Mey.”
Suara itu. Mey akhirnya bisa mendengarnya kembali−setelah selama
ini yang muncul di ilusinya adalah bayangan lelaki itu sedang mencipta puisi
untuknya lantas membacakannya. Mey memutar tubuhnya. Lelaki itu menggandeng
adik kesayangannya dengan seragam putih abu-abu. Fokus mereka bertemu, belum
ada salah satu diantaranya yang berniat membuka suara.
Sedang Fakih.
Lelaki itu−tangan kirinya menggenggam lengan Aqyla, sebelahnya ia
gunakan memegang surat berisi puisi terakhir untuk seseorangnya. Tangannya
meremas kertas tersebut setelah sorot mata Mey menabrak netranya. Fakih merubah
pikirannya secara spontan. Mey tetaplah gadis yang mengisi ruang-ruang di
kepalanya juga rongga dadanya. Pertemuan dengan Kinan ternyata hanya
fatamorgana yang nyaris ia simpulkan akan menjadi sesuatu yang utuh. Semua
kalimat yang ia rancang tadi malam agar tidak menyakiti Mey, hilang ditelan
oleh pikirannya sendiri. Detik ini, Fakih hanya ingin berkata,
“Katakanlah Mey, selalu di dalam hatimu, kalau saya adalah anak
laki-laki yang menyukaimu, seseorang yang melihat senyummu saja sudah bahagia
luar biasa.”
Raha-
Fin
06/01/21
Orizuru Ori
Fakihhh😭😭😭
BalasHapusKenal?
Hapus